Pengelolaan Sawit Berkelanjutan, Seperti Apa?

Tahukah kamu, perkebunan kelapa sawit adalah satu-satunya komoditas pertanian dunia yang dipertanyakan dan dituntut sertifikasi sustainability-nya?

Bandingkan saja dengan sektor energi, tambang, dan transportasi di seluruh dunia yang menyumbang sekitar 60 persen emisi GHG dunia, tapi tidak pernah dituntut bahkan dipertanyakan sertifikasi keberlanjutannya.

Fenomena ini membuat minyak sawit menjadi minyak nabati global pertama di dunia yang memiliki sistem tata kelola dan sertifikasi minyak nabati berkelanjutan; dan negara pertama di dunia yang melakukan sertifikasi minyak nabati adalah Indonesia dan Malaysia. Minyak nabati dunia lainnya, seperti: Minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari, minyak zaitun dan lain-lain, bahkan belum memiliki sistem tata kelola minyak nabati berkelanjutan dan belum melakukan sertifikasi minyak nabati berkelanjutan.

Indonesia sendiri telah memiliki fondasi yang cukup matang untuk perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Saat ini, perkebunan kelapa sawit Indonesia masih berada pada fase awal (early stages) dari lintasan pembangunan (pathway of development) ke masa depan. Namun demikian, sejak awal pemerintah telah meletakan dasar-dasar kebijakan pengelolaan pembangunan nasionalnya.

Pengaturan bisnis yang berkelanjutan itu terwujud nyata pada:
-Undang-Undang Pokok Agraria
-Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman
-Undang-Undang Tata Ruang
-Undang-Undang Kehutanan
-Undang-Undang Perkebunan
-Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Demikian juga bagaimana menggunakan input dalam perkebunan juga telah diatur dalam Peraturan Pemerintah antara lain tentang Pestisida, Bibit, Alat dan Mesin Pertanian dan lain-lain. Dengan kata lain, perkebunan kelapa sawit nasional kita telah dieksekusi dengan kebijakan tata kelola yang baik pada level nasional maupun pada level industri/sektoral.

Hasilnya? Terbukti berdasarkan data RSPO (2014), produksi minyak sawit berkelanjutan tersertifikasi (CSPO) dari Indonesia ternyata lebih besar dibandingkan dari negara lain, yaitu hampir separuhnya (50%), berasal dari Indonesia.