Tanaman Kelapa Sawit, Sahabat Lingkungan Hidup

Mari kita teliti lagi akan dampak pupuk dari perkebunan kelapa sawit bagi tanah dan lingkungan hidup.

Penggunaan pupuk dalam industri perkebunan kerap disorot karena residunya yang dianggap mencemari tanah dengan bahan kimia, sehingga merusak kualitas tanah dan lingkungan hidup ke depannya. Apakah kamu familiar juga dengan isu ini?

Berdasarkan data penelitian, ada sejumlah tanaman industri yang memakai pupuk dalam jumlah besar; di urutan pertama, ada tanaman kedelai yang memakai pupuk NPK, pestisida, dan energi fosil. Menyusul di urutan kedua adalah rapeseed.

Tanaman industri yang paling dikenal luas di industri adalah kelapa sawit;dalam daftar ini, minyak sawit menggunakan pupuk, pestisida dan energi fosil yang relatif rendah sehingga polusi residu ke dalam tanah dan air di perkebunan kelapa sawit juga relatif rendah.

Konsumsi pupuk setiap hektar lahan pertanian Indonesia termasuk didalamnya perkebunan kelapa sawit masih relatif rendah. Penggunaan pupuk yang relatif rendah tersebut berarti juga polusi residu pupuk lebih rendah.

Elemen kedua yang juga disorot sebagai dampak dari industri perkebunan selain pupuk adalah adalah penggunaan air. Kelapa sawit dalam hal ini termasuk salah satu yang paling hemat (dibandingkan tanaman industri lain, seperti tebu) dalam menggunakan air untuk setiap Giga Joule (GJ) bioenergi yang dihasilkan.

Tanaman penghasil bioenergi paling rakus air, lagi-lagi adalah rapeseed, disusul oleh kelapa, ubikayu, jagung, kedelai dan tanaman bunga matahari. Untuk menghasilkan setiap GJ Bionergi (minyak), tanaman rapeseed (tanaman minyak nabati Eropa) memerlukan 184 m3 air.

Tanaman industri perkebunan tidak mungkin tidak mengonsumsi pupuk dan air dalam proses usahanya; untunglah dalam hal keduanya, kelapa sawit menjadi tanaman yang cukup hemat menyerap kedua sumber daya itu. Demikian juga dalam konsumsi bahan bakar fosil dalam proses produksinya. Kontribusi pertanian global hanya sekitar 11 persen dari emisi GHG global. Sekitar 94 persen emisi GHG pertanian global disumbang oleh sektor peternakan, pertanian padi dan penggunaan pupuk. Kontribusi pemanfaatan lahan gambut global hanya sekitar 2 persen. Maka tanaman industri, dengan pengelolaan yang bijak dan sesuai aturan, menjadi solusi ekonomi yang minim dampaknya pada lingkungan hidup.