SAWITBAIK.ID, KUALA LUMPUR — Ancaman terhadap produktivitas kelapa sawit di Malaysia tidak hanya datang dari faktor cuaca dan penyakit tanaman, tetapi juga dari hama yang kerap luput dari perhatian, yakni tupai. Dalam beberapa bulan terakhir, serangan tupai dilaporkan semakin marak di sejumlah sentra produksi sawit.
Mengutip laporan Green Project, akhir November 2025, tupai kini menjadi salah satu hama paling persisten di areal perkebunan sawit Malaysia. Hewan kecil ini biasanya menyerang buah sawit yang hampir masak dengan cara mengupas kulit luar untuk mencapai daging buah.
Meski tampak sepele, kerusakan akibat serangan tupai berdampak langsung pada kehilangan hasil. Buah yang telah terkelupas tidak lagi dapat diolah di pabrik, sehingga menurunkan volume TBS yang dapat dipanen.
Pekerja kebun mencatat, melimpahnya sumber pakan alami serta banyaknya area teduh untuk bersarang membuat populasi tupai dapat berkembang dengan cepat apabila tidak dikendalikan.
Beberapa tanda keberadaan tupai antara lain buah sawit yang terkelupas rapi, sisa biji atau daging buah berserakan di tanah, serta suara gerakan di pelepah pohon. Aktivitas tersebut umumnya meningkat pada pagi dan sore hari.
Para ahli menekankan pentingnya pendekatan pengendalian yang seimbang dan ramah lingkungan. Pengelolaan habitat, pemasangan perangkap, serta pengurangan sumber makanan menjadi strategi yang direkomendasikan untuk menekan populasi tupai tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem kebun.
Di tengah upaya penerapan pengendalian hama terpadu dan berkelanjutan, kasus serangan tupai ini kembali menegaskan pentingnya manajemen kebun yang adaptif dan berbasis ekologi. (T2)









