sawitbaik

Tak Semua Gulma Musuh Sawit, Peneliti PPKS Ungkap Mana yang Harus Dikendalikan



Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi gulma di perkebunan kelapa sawit.
Tak Semua Gulma Musuh Sawit, Peneliti PPKS Ungkap Mana yang Harus Dikendalikan

SAWITBAIK.ID, MEDAN — Tidak semua gulma di perkebunan kelapa sawit harus diberantas. Sebagian memang menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan dan produksi, namun sebagian lainnya justru berperan menjaga keseimbangan ekosistem kebun.

Hal tersebut disampaikan periset Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Djend Muhayat, saat berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan gulma di areal perkebunan kelapa sawit.

Djend menjelaskan, pendekatan pengendalian gulma di kebun sawit kini tidak lagi sepenuhnya mengandalkan bahan kimia. Banyak perkebunan mulai menerapkan metode mekanis dan selektif untuk menjaga kesehatan tanah serta keseimbangan hayati.

“Yang perlu dipahami pekebun adalah membedakan gulma yang benar-benar membahayakan dengan gulma yang sebenarnya masih bisa ditoleransi,” ujarnya, dikutip SawitBaik.id dari laman Facebook resmi PPKS, Kamis (29/1/2026).

Menurut Djend, gulma yang paling berbahaya adalah alang-alang. Gulma ini memiliki akar rimpang kuat dan menghasilkan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman di sekitarnya.

“Alang-alang wajib dikendalikan menggunakan herbisida sistemik. Jika dibiarkan, penyebarannya sangat cepat dan berdampak langsung pada produktivitas sawit,” jelasnya.

Selain itu, gulma berdaun sempit seperti Dicanthium linearis juga perlu diwaspadai karena sering menjadi indikator tanah miskin unsur hara, khususnya fosfat. Ciri khasnya adalah warna daun keunguan yang menandakan rendahnya kandungan bahan organik.

Gulma lain yang dinilai merugikan adalah anakan kayu berakar tunggang seperti Clidemia hirta dan Melastoma malabathricum. Jenis ini bersaing langsung dengan sawit dalam menyerap air dan unsur hara sehingga perlu dikendalikan secara tepat.

Di sisi lain, Djend menegaskan bahwa beberapa gulma justru bermanfaat. Kelompok bayam-bayaman yang tumbuh di luar piringan, misalnya, dapat membantu menjaga kelembapan tanah selama tidak mengganggu zona perakaran utama.

Begitu pula dengan pakis Nephrolepis biserrata yang bersifat epifit. Akar tanaman ini tidak merusak jaringan sawit dan justru membantu menciptakan mikroklimat yang lebih lembap serta mengurangi erosi.

“Gulma itu ada di mana-mana, tapi tidak semuanya merugikan. Kuncinya adalah pemahaman dan selektivitas,” tegas Djend.

Dengan pengelolaan gulma yang tepat, pekebun tidak hanya menjaga produktivitas kelapa sawit, tetapi juga mendukung keberlanjutan kebun melalui ekosistem yang lebih sehat dan seimbang. (T2)