SAWITBAIK.ID, DEPOK — Program mandatori biodiesel Indonesia terus meningkat dari B15 hingga B35, dan direncanakan mencapai B40 pada 2025–2026. Namun di balik kurva kebijakan yang menanjak, muncul pertanyaan mendasar: dari mana pasokan bahan bakunya?
Mochamad Husni dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan, keberlanjutan program biodiesel sangat bergantung pada produktivitas sawit nasional, bukan pada perluasan lahan baru.
Data GAPKI menunjukkan kebutuhan CPO untuk biodiesel melonjak dari sekitar 7,4 juta ton pada 2020 menjadi sekitar 13,2 juta ton lima tahun kemudian. Sementara itu, produksi nasional cenderung stagnan di kisaran 52–53 juta ton per tahun, dengan luas perkebunan relatif tetap di angka 15–16 juta hektare.
Di dalam negeri, sekitar 25 juta ton CPO dikonsumsi, dengan porsi terbesar untuk biodiesel (52 persen), diikuti pangan (40 persen) dan oleokimia (8 persen). Jika konsumsi domestik terus meningkat sementara produksi stagnan, ruang ekspor Indonesia berpotensi tergerus.
Untuk menjawab tantangan tersebut, industri mendorong intensifikasi melalui peningkatan produktivitas. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di Medan tengah mengembangkan berbagai jenis serangga penyerbuk seperti Elaeidobius kamerunicus, E. plagiatus, dan E. subvittatus, termasuk introduksi penyerbuk baru dari Tanzania guna meningkatkan pembentukan buah.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan dibanding ekspansi lahan, terutama di tengah keterbatasan ruang dan tekanan isu lingkungan global.
Bagi industri, biodiesel bukan sekadar kebijakan energi, melainkan simpul kepentingan pangan, lingkungan, ekonomi, dan geopolitik. Menjaga iklim usaha yang positif dan berbasis keberlanjutan menjadi kunci agar sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. (T2)









