Berita Lintas
sawitbaik

RSPO mendorong Share Responsibility Menjadi Kewajiban Semua Anggota



RSPO mendorong Share Responsibility Menjadi Kewajiban Semua Anggota

InfoSAWIT, JAKARTA - Dalam sebuah webinar hari ini (19/8) dengan tema Share Responsibility Mendorong Serapan Minyak Sawit Berkelanjutan yang diadakan CNN Indonesia, menghadirkan pembicara dari RSPO, GAR, WWF dan YLKI. Dalam Webinar tersebut, Direktur RSPO Indonesia, mendorong semua anggota RSPO untuk mengambil peranan dalam penyerapan minyak sawit berkelanjutan yang sudah dihasilkan anggota dari sektor perkebunan kelapa sawit.

“Kami mendorong anggota RSPO untuk menyerap produksi minyak sawit berkelanjutan yang sudah dihasilkan anggota sektor perkebunan kelapa sawit,” kata Tiur, lebih lanjut,”Penyerapan minyak sawit berkelanjutan merupakan kewajiban bagi semua anggota RSPO untuk menjadikan minyak sawit berkelanjutan sebagai sebuah norma”.

Senada dengan itu, Managing Director GAR, Agus Purnomo, menegaskan komitmen perusahaan perkebunan kelapa sawit yang selalu melakukan prinsip dan kriteria berkelanjutan yang berlaku universal untuk memproduksi minyak sawit di Indonesia dan dunia. Menurutnya, keberlanjutan sudah menjadi kebijakan perusahaan yang harus dilakukan.

“Dengan kondisi pandemi Covid19 saat ini, kami tetap bekerja keras untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan hingga memiliki kemamputelusuran hingga seluruh pemasok bahan baku yang digunakan pabrik milik perusahaan,” kata Agus menegaskan dalam webinar yang diikuti InfoSAWIT.

Dengan menghasilkan minyak sawit berkelanjutan, perusahaan perkebunan kelapa sawit juga mengeluarkan biaya perbaikan, pemeliharaan dan produksi yang relatif lumayan besar. Sebab itu, Agus mengharapkan adanya insentif harga bagi produk yang dihasilkan dari minyak sawit berkelanjutan yang dibayarkan oleh konsumen.

Ketua Harian YLKI, Tulus mengungkapkan keberadaan konsumen Indonesia yang masih mempersoalkan harga beli sebuah produk. Dimana, konsumen menginginkan harga produk cenderung murah dan berkualitas. Sehingga konsen konsumen di Indonesia, belum sampai kepada pemahaman berkelanjutan (sustainability).

Tulus berharap, jika konsumen Indonesia, kelas menengah keatas menginginkan produk minyak sawit berkelanjutan, maka perlu disosialisasikan lebih lanjut mengenai keberlanjutan itu sendiri, termasuk mengenai penggunaan logonya. Termasuk logo-logo yang dibutuhkan konsumen seperti Halal dan tanggung jawab produsen dalam menggunakan kemasan plastik. (T1)