SAWITBAIK.ID, JAKARTA – Menghadapi keterbatasan tanah spodosol, pendekatan konvensional tidak lagi memadai. Di sinilah teknologi tanam lubang besar atau big hole menjadi solusi agronomis yang dikembangkan untuk meningkatkan daya dukung lahan.
Pada umumnya, bibit kelapa sawit ditanam menggunakan lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Namun pada areal spodosol, sebelum dilakukan penanaman dengan ukuran standar tersebut, dilakukan tindakan teknis berupa pemecahan lapisan spodik.
Mengutip buku Budidaya Kelapa Sawit, Hasil Selangit Secara Berkelanjutan terbitan Lily Publisher (2024), pemecahan ini bertujuan menghilangkan horison illuviasi (hardpan) yang menghambat penetrasi akar. Bidang yang dipecah berbentuk lubang kubus dengan ukuran yang ditetapkan berdasarkan kedalaman lapisan spodik di masing-masing satuan peta tanah (SPT), sebagaimana tercantum dalam laporan survei lahan.
Metode inilah yang dikenal sebagai metode penanaman lubang besar atau big hole.
Teknologi ini diharapkan mampu memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah, meningkatkan aerasi, memperlancar drainase, serta mendukung perkembangan sistem perakaran yang lebih kuat. Dengan akar yang tumbuh optimal, tanaman memiliki daya tahan lebih baik terhadap tekanan lingkungan.
Selain itu, teknologi lubang besar juga berperan dalam mencegah penurunan populasi akibat tanaman tumbang. Hal ini penting terutama di lahan dengan risiko erosi permukaan yang tinggi.
Dengan pendekatan ini, budidaya sawit di lahan spodosol tidak lagi sekadar upaya bertahan, melainkan strategi untuk memastikan umur ekonomis tanaman dapat melampaui 20 tahun secara berkelanjutan.
Di tengah tuntutan produktivitas dan keberlanjutan, inovasi agronomi seperti big hole menunjukkan bahwa tantangan lahan bukanlah hambatan mutlak—melainkan persoalan teknik dan manajemen yang dapat diatasi dengan pendekatan ilmiah. (T2)









