Berita Lintas
sawitbaik

Menaklukkan Tanah “Sulit”: Tantangan Spodosol di Barito Timur



Dok. Istimewa/Ilustrasi tanah spodosol.
Menaklukkan Tanah “Sulit”: Tantangan Spodosol di Barito Timur

SAWITBAIK.ID, JAKARTA Tak semua lahan tropis ramah bagi kelapa sawit. Di Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, terdapat jenis tanah yang dikenal sebagai spodosol subgrup typic placorthod—tanah yang secara alami menyimpan banyak keterbatasan untuk budidaya sawit.

Dilansir Sawitbaik.id dari buku Budidaya Kelapa Sawit, Hasil Selangit Secara Berkelanjutan terbitan Lily Publisher (2024), tanah spodosol di wilayah ini memiliki sejumlah persoalan mendasar. Di antaranya keberadaan lapisan keras (spodik), tingkat kesuburan rendah, kapasitas memegang air yang minim, bereaksi masam, serta tidak sesuai untuk budidaya kelapa sawit tanpa perlakuan teknis khusus dalam penyiapan lahan dan praktik agronomi.

Menurut Van Wambeke (1992), spodosol merupakan tanah mineral yang memiliki horison spodik dengan batas atas berada hingga dua meter dari permukaan tanah. Sementara Driessen dan Dudal (1989) menjelaskan, spodosol dicirikan oleh lapisan bawah menyerupai abu akibat proses pencucian asam organik yang kuat.

Secara umum, spodosol tersusun atas dua horison utama: horison albik di bagian atas dan horison spodik di bagian bawah. Di lapangan, horison E albik tampak berwarna abu-abu pucat hingga keputihan dengan ketebalan bisa mencapai hampir dua meter. Di bawahnya terdapat horison B spodik berwarna cokelat hingga cokelat sangat gelap (Prasetyo et al., 2006).

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pengembangan sawit. Tanah yang tampak luas dan datar itu menyimpan lapisan keras kedap air yang menghambat pertumbuhan akar. Tanpa intervensi teknologi yang tepat, produktivitas sulit dicapai secara berkelanjutan. (T2)