Berita Lintas
sawitbaik

Perkebunan Sawit Berperan dalam Penyerapan Karbon di Daerah Tropis



Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi perkebunan kelapa sawit.
Perkebunan Sawit Berperan dalam Penyerapan Karbon di Daerah Tropis

SAWITBAIK.ID, JAKARTA – Perkebunan kelapa sawit dinilai memiliki kemampuan ekologis yang signifikan dalam menyerap karbon dioksida (CO?), sejalan dengan fungsi vegetasi hutan hujan tropis dalam proses fotosintesis.

Hal ini mengacu pada Buku Fakta Kelapa Sawit yang diterbitkan oleh Tim Advokasi Minyak Sawit Indonesia – Dewan Minyak Sawit Indonesia (TAMSI-DMSI) pada tahun 2010, yang menyebutkan bahwa tanaman kelapa sawit tumbuh optimal di wilayah tropis dengan kanopi daun yang lebar, sehingga efektif dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

Kemampuan ini menjadikan kelapa sawit tidak hanya sebagai komoditas strategis sektor agribisnis, tetapi juga berpotensi berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui mekanisme penyerapan karbon alami.

 

Perbandingan Sawit dan Hutan Hujan dalam Menyerap Karbon

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa secara parameter fisiologis, perkebunan kelapa sawit memiliki tingkat asimilasi kotor sebesar 161,0 ton CO? per hektare per tahun, mendekati kemampuan hutan hujan yang mencapai 163,5 ton CO? per hektare per tahun.

Sementara itu, nilai asimilasi bersih kelapa sawit tercatat sebesar 64,5 ton CO? per hektare per tahun, lebih tinggi dibandingkan hutan hujan yang berada pada angka 42,4 ton CO? per hektare per tahun.

Efisiensi fotosintesis tanaman kelapa sawit juga dilaporkan mencapai 3,18 persen, melampaui efisiensi fotosintesis hutan hujan sebesar 1,73 persen. Selain itu, efisiensi konversi radiasi matahari pada kelapa sawit mencapai 1,68 gram per megajoule, lebih tinggi dibandingkan hutan hujan yang sebesar 0,86 gram per megajoule.

Dari sisi produktivitas biomassa, peningkatan biomassa tahunan perkebunan kelapa sawit tercatat sebesar 8,3 ton per tahun, sedangkan hutan hujan berada pada kisaran 5,8 ton per tahun.

 

Potensi Kontribusi terhadap Mitigasi Emisi

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun total biomassa di area hutan hujan lebih besar, perkebunan kelapa sawit memiliki tingkat produktivitas bahan kering tahunan yang lebih tinggi, yakni mencapai 36,5 ton per tahun, dibandingkan hutan hujan sebesar 25,7 ton per tahun.

Dengan karakteristik fisiologis tersebut, perkebunan kelapa sawit berpotensi memainkan peran dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya di kawasan tropis tempat tanaman ini tumbuh secara optimal. (T2)

Sumber: Buku Fakta Kelapa Sawit, Tim Advokasi Minyak Sawit Indonesia – Dewan Minyak Sawit Indonesia (TAMSI-DMSI), 2010.