Berita Lintas
sawitbaik

Menggantang Mekanisasi di Perkebunan Kelapa Sawit



Menggantang Mekanisasi di Perkebunan Kelapa Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Masalah terkadang menjadi beban dan kendala, namun demikian pada dasarnya setiap permasalahan sejatinya memiliki buah solusi, hanya saja penemuan solusi itu tergantung dari berat dan rumitnya masalah.

Tidak terkecuali pada industri kelapa sawit nasional. Masalah kerap muncul, entah itu akibat regulasi yang masih belum berpihak ke industri, isu lingkungan yang pada akhirnya mereduksi citra. Atau masalah internal biaya produksi yang terus terdongkrak.

Masalah di sektor perkebunan kelapa sawit memang tidak hanya satu atau dua saja, tetapi terhitung begitu banyak. Saat dihadapkan pada isu lingkungan, dengan gagah pelaku perkebunan sepakat menerapkan budidaya kelapa sawit berkelanjutan.

Demikian pula saat regulasi yang diterbitkan pemerintah kurang berpihak dan menjadi berbelit, industri kelapa sawit masih bisa memakluminya. Lantas kini masalah terus melonjaknya biaya produksi sedang dicarikan jalan keluarnya.

Walaupun secara kasat mata, penyelesaian masalah itu bisa dipecahkan lewat penemuan-penemuan teknologi tepat guna di perkebunan kelapa sawit. Hanya saja riset dan penemuan teknologi itu terbilang lambat, hasilnya pelaku perkebunan kerap berinisiatif untuk mengembangkan teknologi perkebunan secara masing-masing.

Memang bukan itu jalan keluar terbaik, sebab guna mencapai efisiensi di perkebunan kelapa sawit, perlu dukungan pemerintah selaku pemegang mendapat pengembangan pembangunan ekonomi bangsa, sehingga mendorong perkebunan kelapa sawit terus berkembang, pada akhirnya perekonomian perdesaan bisa terus meningkat.

Sejatinya, lembaga seperti LIPI, BPPT, MAKSI dan Perguruan Tinggi, menjadi sumber penemuan teknologi perkebunan kelapa sawit yang mumpuni, sehingga pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di topang dengan teknologi yang kokoh.

Hasilnya industri bisa tumbuh pesat. Ada harapan semoga semua cerita masalah itu bisa mulai diurai satu persatu, dan bisa diketemukan solusinya oleh pemerintah pimpinan Joko Widodo.

Ini kondisi dimana dengan terus bertumbuhnya areal perkebunan kelapa sawit maka mendongkrak kebutuhan tenaga kerja. Sayangnya pemenuhan tenaga kerja di perkebunan tidak dipersiapkan dengan baik, ujungnya mekanisasi jadi pilihan.

Celakanya, riset di perkebunan kelapa sawit dirasa masih kurang maksimal, sebab itu membuat roadmap pengembangan industri kelapa sawit yang terintegrasi perlu segera dilakukan. Lantas apakah solusi itu hanya dengan mekanisasi?

Sebab dengan terus bertumbuhnya luasan lahan perkebunan kelapa sawit nasional, jelas kebutuhan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit pun bakal terdongkrak. Bilamana pemenuhan pasokan tenaga kerja di sektor sawit tidak segera diantisipasi, maka bakal memunculkan berbagai kendala. Bisa jadi ketiadaan tenaga kerja di sektor sawit bakal menjadi masalah serius bagai pertumbuhan perkebunan kelapa sawit nasional, dikemudian hari.

Minimnya ketersediaan tenaga kerja di sektor sawit, sejatinya telah dialami industri perkebunan kelapa sawit nasional, kendati sampai saat ini kadarnya belum begitu memperihatinkan. Menjadi kabar yang tidak asing bilamana sekelompok pekerja di perusahaan sawit pindah ke perusahaan sawit lainnya, secara bersama-sama. Atau sekedar mendapatkan pekerja sawit dengan cara “membajak” karyawan dari perusahaan perkebunan lain, hal demikian telah banyak terjadi di pekebunan kelapa sawit di Indonesia.

Dalam kasus demikian, biasanya tenaga pekerja yang dibutuhkan adalah tenaga pekerja profesional yang sudah paham benar dengan perkebunan kelapa sawit. Tentu saja memperoleh tenaga kerja lewat jalan demikian, tidaklah bisa dipertahankan langgeng terus menerus.

Apalagi pertumbuhan areal perkebunan kelapa sawit terus bertambah setiap tahunnya. Sebab itu sejatinya butuh roadmap dan design yang disiapkan dengan baik, untuk menghasilkan lulusan SDM khusus untuk perkebunan kelapa sawit yang siap di lapangan. (T2)

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Cetak Edisi Februari 2015