InfoSAWIT, JAKARTA - Dikatakan, Senior Manager Sustainable Sourcing, PT Unilever Indonesia, Akhmad Adhitya, Unilever hadir ingin menjadi perusahaan yang memiliki dampak positif bagi masyarakat. Untuk di Indonesia produk Unilever terdapat sebanyak 40 macam, dari Shampo, deterjen, serta produk perawatan tubuh lainnya. “Kami ingin menjadi perusahaan yang memiliki dampak positif kepada masyarakat dan kelestarian lingkungan,” kata Adhitya.
Guna mencapai tujuan itu maka Unilever pun membuat program yang bernama Unilever Compass in Action, dimana program ini mencakup merek dagang yang terus bertumbuh, perusahaan dengan tujuan akhir, masyarakat dengan tujuan untuk tetap berkembang. Dari semua itu, memiliki tujuan utama untuk membuat tempat tinggal bersama yang berkelanjutan.
Dikatakan Adhitya, Unilever memiliki program berkelanjutan yang sudah diterapkan semisal terlibat aktif dalam proses sertifikasi petani sawit swadaya, serta mempromosikan sustainable agricultural practices. Lantas bekerjasama dengan Conservation International (CI), mengadakan land mapping terkait status lahan, menerapkan program traceability guna memastikan pasokan buah sawit bukan berasal dari kawasan hutan.
Bagi Unilever, petani menjadi salah satu rantai suplai yang cukup penting, lantaran kata Adhitya, petani merupakan pejuang untuk mempraktikan pengelolaan lahan pertanian yang berkelanjutan. Unilever tercatat mendukung petani dengan beragam program supaya petani bisa lebih optimal dalam membudidayakan kelapa sawit. “Program kerjasama dengan petani yang sudah dilakukan terdapat di tiga wilayah yakni Sumatera Utara, Riau dan Kalimantan Tengah,” kata Adhitya dalam webinar yang dihadiri InfoSAWIT.
Kerjasama antara Unilever dengan petani ini kedepannya dipastikan akan lebih masif, untuk tahun 2020 ini Unilever telah membuka program pelatihan petani sawit swadaya namun agak tertunda lantaran munculnya pandemi covid-19.
Kata Adhitya, program untuk petani itu diantaranya dengan melakukan pembinaan terhadap petani sawit swadaya, dimana berlokasi di Sumatera Utara telah memetakan lahan milik 1.300 petani yang akan diteruskan untuk pembuatan Sertifikat Hak Milik (SHM), lantas di Riau terlibat dengan koperasi untuk memastikan asal usul buah sawit masyarakat tidak dari kawasan hutan. (T2)
Lebih lengkap baca InfoSAWIT Cetak Edisi Agustus 2020







