InfoSAWIT, JAKARTA - Kekeringan yang panjang di Sumatera dan Kalimantan pada awal tahun 2019 mengakibatkan rata-rata perusahaan perkebunan kelapa sawit mengurangi aplikasi pupuk. Dampak cuaca kering dan pengurangan aplikasi pupuk akan terus mengganggu produksi minyak sawit selama tahun 2020 ini.
Risiko dari kondisi cuaca juga telah dilaporkan. Biro Meteorologi Australia memperkirakan kemungkinan terbentuknya La Nina selama musim semi pada belahan bumi bagian selatan dalam waktu dekat. La Nina akan membawa cuaca yang lebih basah dari biasanya ke Indonesia dan Malaysia, yang akhirnya bakal memengaruhi produksi dan panen.
Dalam laporan CPOPC, produksi CPO Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan akan lebih rendah 1-2 juta ton dari tahun lalu menjadi sekitar 44 juta ton, kondisi ini terjadi akibat cuaca kering dan kurangnya penggunaan pupuk. Tekanan dari LSM untuk menghentikan penanaman kelapa sawit, serta pelambatan penanaman kelapa sawit baru akibat harga rendah hingga 2019 lalu dan kebijakan moratorium yang sedang berlangsung, merupakan sederet alasan lain yang membuat pertumbuhan produksi minyak sawit di Indonesia lebih rendah.
Sementara untuk output perkebunan kelapa sawit di Malaysia diperkirakan turun 4,3% menjadi 19 juta ton karena tekanan biologis pada pohon dan pasokan tenaga kerja yang terbatas. Pemerintah Malaysia baru-baru ini memberlakukan pembekuan penerimaan untuk pekerja asing baru yang menjadi andalan sektor ini.
Lebih lengkap baca InfoSAWIT Cetak Edisi Agustus 2020 cek di http://store.infosawit.com/







