InfoSAWIT, JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia akan segera menggelar Jakarta Food Security Summit (JFSS) kelima pada 18-19 November mendatang. Hal ini dilakukan sebagai komitmen Kadin untuk menggerakkan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Ketua Umum KADIN Indonesia Rosan P. Roeslani berharap sektor pertanian, peternakan dan perikanan bisa tumbuh secara berkelanjutan. Kesinambungan pertumbuhan sangat penting karena sektor yang sangat erat dengan komoditas pangan tersebut banyak menyerap tenaga kerja sekitar 29 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Rosan optimistis sektor pertanian, peternakan dan perikanan akan terus bertumbuh seiring dengan adanya Undang-Undang Cipta Kerja. “Seharusnya setelah UU Cipta Kerja berlaku, investasi di sektor pertanian, peternakan, perikanan dan juga pangan berkembang dari hulu ke hilir,” ujarnya dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT.
Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan Franky Oesman Widjaja mengungkapkan, pertumbuhan sektor pertanian, termasuk pangan tetap tinggi pada saat sektor lain justru sedang menurun, sehingga perlu terus dikembangkan. Kebijakan dan kemitraan yang berpihak kepada sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pengolahan yang mendukung ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan, perlu terus didorong.
Hal tersebut selaras dengan hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ketahanan Pangan 2019 bahwa pangan dan pertanian bagian tidak bisa dipisahkan dalam sistem agribisnis dari hulu ke hilir. “Artinya keberadaan dan kebersamaan petani dengan pengusaha merupakan sebuah keniscayaan,” kata Franky.
Franky mengungkapkan, Presiden Joko Widodo saat membuka JFSS ke 3 (tiga) pada 2015 lalu memberi target kepada KADIN untuk memberi pendampingan kepada 1 juta petani dari sebelumnya 200 ribuan petani. Target pendampingan kepada 1 juta petani tersebut sudah berhasil diwujudkan pada awal 2020.
KADIN bersama Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) telah berhasil memberikan pendampingan kepada lebih dari 1 juta petani yang tersebar di seluruh Indonesia, kata Franky. Dengan pendampingan, petani mampu meningkatan produktivitas yang secara otomatis meningkatkan pendapatan mereka. Mereka tidak saja petani sawit dan produk perkebunan, melainkan juga petani palawija seperti padi dan jagung. “Kami bertekad meningkatkan pendampingan menjadi dua juta petani pada 2023,” ujar Franky.
Menurut Franky, meningkatkan produktivitas para petani dan sekaligus mencapai ketahanan pangan tidaklah mudah karena ada sejumlah kendala yang harus dihadapi, seperti ketersediaan lahan, benih unggul, pupuk, pembiayaan, pemasaran, irigasi, sarana penyimpanan hasil pertanian dan saranaprasarana lainnya, serta kelembagaan. Kendala lainnya juga, kebijakan pemerintah menyangkut bibit dan bahan baku peternakan sapi penggemukan.
Model kerja sama yang digagas KADIN adalah sistem Inclusive Closed Loop dan membangun ekosistem berusaha. Sistem ini, kata Franky, merupakan sebuah skema kemitraan yang saling menguntungkan dari hulu-hilir sehingga keberlanjutan produksi terjaga dan petani sejahtera.
Membuat Inclusive Closed Loop itu mahal dan tidak mudah, sehingga perlu ada skema Public Private Partnership (PPP) bagi komoditas lainnya. dikatakan Ketua Pelaksana JFSS-5, Juan Permata Adoe, membangun ekosistem sawit yang sukses butuh 30 tahun. Sawit terbantu oleh waktu dan konsistensi kebijakan di era sebelumnya. "Kalau komoditas lainnya ingin seperti sawit tidak mungkin bisa cepat dalam kondisi sekarang. Karena itu perlu ada PPP untuk komoditas non sawit tersebut,” kata Juan. (T2)







