InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit dalam dekade terakhir cukup pesat, bahkan pandemic covid-19 pun tidak menjadi halangan bagi terus bertumbuhnya industri komoditas strategis yang dimiliki Indonesia tersebut.
Dikatakan Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi, kendati sektor kelapa sawit telah berkontribusi besar dalam perekonomain bangsa, namun masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.
Tantangan itu, kata Tofan sedikitnya ada 4 hal, diantaranya pertama, tantangan keberlanjutan (sustainability), tantangan ini telah dihadapi industri sawit semenjak 2011 lalu bertepatan dengan terbitnya kebijakan moratorium ijin di lahan gambut dan kawasan hutan. “Kami pastikan bahwa seluruh anggota GAPKI, tidak ada lagi penambahan ijin lahan baru,” katanya dalam Webinar Syariah Talk Bank CIMB Niaga, yang dihadiri InfoSAWIT, Selasa (17/11/2020) .
Lebih lanjut tutur Tofan, tantangan berkelanjutan ini juga menyangkut tantangan serifikasi berkelanjutan, yang saat ini sedang diusahakan seluruh anggota GAPKI guna memperoleh sertifkat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan penerapan komitmen No Deforestation, No Peat Land, No Eksploitation (NDPE).
Lantas, kedua tantangan terkait kebijakan, yang saat ini masih terdapat banyak tumpang tindi regulasi pada akhirnya mempersulit pelaku dalam berusaha. Utamanya terkait status kawasan hutan, pada akhirnya menjadi benang kusut yang mempersulit pelaku usaha termasuk petani.
Tantangan ketiga, kata Tofan menyangkut tantangan produktivitas, lantaran sampai saat ini angka produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat masih sangat rendah dibandingkan produktivitas perkebunan kelapa sawt yang dikelola swasta maupun milik negara. “Namun demikian program peremajaan sawit rakyat realisasinya belum maksimal,” katanya.
Keempat, tantangan mengenai hambatan perdagangan internasional dan kampanye hitam sawit, masalah ini kata Tofan, mesti dihadapi dengan baik dan dilakukan dengan strategi komunikasi yang jitu, sehingga informasi yang jauh dari fakta lapangan bisa diminimalisir, termasuk melakukan beragam kerjasama multilateral serta kerjasama perdagangan regional. “Hambatan tariff dan non tariff serta adanya label bebas minyak sawit masih tetap muncul, tentangan ini harus dihadapi dengan strategi komunikasi yang bagus, dan kami pun terus melakukan kempanye positif secara berkesinambungan,” tandas Tofan. (T2)







