InfoSAWIT, JAKARTA - Pandemi virus Covid-19 tidak hanya memaksa kita berhenti dari beberapa kebiasaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari namun juga menunjukkan sedikit gambaran akan masa depan kita yang lebih bersih dan hijau.
Di saat ekonomi Indonesia mulai bergerak kembali dan kita keluar dari krisis internasional ini dengan komitmen terhadap pembangunan yang berkelanjutan, kita memiliki kesempatan untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih, hijau dan adil – dengan dukungan dari komunitas internasional.
Sebuah surat terbuka yang menyerukan investasi lebih besar dalam bidang kesehatan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang baik dikirim kepada para pemimpin negara G20 pada bulan Mei 2020 lalu. Surat terbuka tersebut ditandatangani lebih dari 350 organisasi – termasuk dua dari Indonesia – dan mewakili lebih dari 40 juta pekerja kesehatan profesional. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi kita untuk lepas dari keadaan biasa dan membangun sebuah ekonomi yang lebih tangguh yang tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan peluang yang adil, tetapi juga melindungi lingkungan dan masyarakat serta mendukung keanekaragaman hayati.
Membangun sebuah ekonomi yang berkelanjutan akan memungkinkan Indonesia untuk mengatasi masalah yang luar biasa. Meskipun rasanya kita telah berhasil melewati masa-masa yang paling sulit, dampak ekonomi dan sosial dari pandemi ini terus dirasakan oleh keluarga-keluarga dan komunitas di Indonesia.
Data dari Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menunjukkan bahwa pasar global mengalami pukulan besar akibat pandemi Covid-19, dan ekonomi Indonesia diprediksikan dapat mengalami goncangan hingga 3,9% di tahun 2019. Dampak dari pandemi Covid-19 ini sudah dapat dilihat dari penurunan IHSG dan depresiasi Rupiah.
Sebagai upaya mitigasi Covid-19, pemerintah Indonesia telah mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 677,2 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional pada bulan Juni. Paket stimulus ini akan memberikan insentif yang sangat dibutuhkan untuk mendukung bisnis dan pekerja lokal yang terdampak oleh Covid-19. Pemerintah Indonesia juga telah berjanji untuk mempercepat proses ekspor bagi para pelaku usaha serta memperbaiki sistem logistik di Indonesia.
Semua langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia selama pandemi ini tentunya akan menjadi sebuah manfaat bagi industri komoditas terbesar di Indonesia: minyak sawit.
Minyak sawit telah menjadi sumber pendapatan yang vital bagi Indonesia; tidak hanya menjadi salah satu pemasukan ekspor terbesar bagi ekonomi Indonesia, industri minyak sawit juga telah memberikan lapangan kerja bagi jutaan orang dan telah membantu banyak keluarga keluar dari kemiskinan. Meskipun seperti industri besar lainnya, minyak sawit masih mendapat perhatian negatif, namun terdapat komunitas yang bertumbuh pesat di seluruh rantai pasokan minyak sawit yang telah fokus terhadap produksi minyak sawit berkelanjutan.
Dengan perhatian baru terhadap masa depan yang lebih bersih, hijau dan adil, terutama di saat kita sedang mulai mendorong kembali roda pemulihan ekonomi Indonesia, terdapat sebuah peluang unik untuk memanfaatkan situasi yang kita hadapi saat ini dan membuat minyak sawit berkelanjutan sebagai bagian dari ‘new normal’ Indonesia.
Saat ini, Indonesia sudah dalam tahap peningkatan produksi dan pengadaan minyak sawit berkelanjutan. Proses ini termasuk mengimplementasikan strategi dan kegiatan yang dapat memicu transformasi sektoral dan membawa dampak langsung yang mendukung transparansi dan inklusivitas rantai pasokan minyak sawit.
Permintaan dari importir besar seperti Tiongkok, India, Amerika Serikat serta Uni Eropa harus tetap kuat agar minyak sawit berkelanjutan dapat mendorong pemulihan hijau yang juga melindungi lapangan kerja dan komunitas lokal. Sangat tidak mungkin jika permintaan global akan minyak sawit berkurang, terutama karena setiap orang masih membutuhkan makanan dan produk perawatan pribadi – dan surat terbuka kepada para pemimpin negara G20 juga telah menunjukkan bahwa terjadi sebuah perubahan besar yang mendukung produksi minyak sawit yang berkelanjutan.
Perdagangan global adalah kunci untuk perubahan ini. Volume global minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO saat ini mencapai 15,65 juta ton, setara dengan 19% dari volume produksi global – hal ini menunjukkan seberapa jauh perjalanan kita untuk mencapai target yang diharapkan. Namun, hal ini juga menunjukkan peluang yang ada untuk meningkatkan permintaan, memperluas akses pasar dan mencapai konsumen baru untuk minyak sawit berkelanjutan. (Tiur Rumondang/ Direktur Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia)







