Harapan, sukacita dan semangat baru, mewarnai pembukaan tahun 2015 ini. Langkah awal di tahun baru ini, juga menyisakan pekerjaan rumah dari tahun yang lalu. Seringkali, langkah agak tersendat, namun dengan semangat baru, sejatinya akan membawa harapan baru menjadi lebih baik di tahun 2015.
Bagi industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir, salah satu harapan di tahun 2015 ini adalah kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO). Pasalnya, sepanjang tahun 2015, harga CPO cenderung stagnan dan menurun. Kendati, bagi Indonesia turunnya harga CPO yang berlabel Dollar, pada umumnya masih terbantu bila ditukar Rupiah.
Namun, kecenderungan harga CPO yang cenderung stagnan, menyisakan banyak persoalan. Pasalnya, CPO merupakan bagian dari perdagangan internasional, yang tentu saja membutuhkan pembiayaan Dollar. Terlebih, berbagai hambatan yang memerlukan biaya tambahan, cenderung menggerus keuntungan yang kian menipis.
Bagi perusahaan kelapa sawit yang berorientasi ekspor, pengaruh biaya tambahan sangat berpengaruh terhadap beban biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, perusahaan yang fokus pasar domestik tidak terlalu bermasalah. Lantaran, keberadaan pasar domestik tetap mengacu kepada harga internasional CPO. Alhasil, nilai tukar Rupiah yang melemah, menjadi nilai keuntungan tambahan yang di raih.
Itulah, sedapnya berbisnis dengan Rupiah dan menghasilkan produk berorientasi pasar ekspor. Kekuatan produk tersebut, sangat berpengaruh terhadap pasar ekspor dan domestik. Kendati sepanjang tahun 2015, permintaan pasar internasional cenderung menurun, namun permintaan pasar domestik cenderung naik.
Keberadaan pasar baru biodiesel yang kembali di hidupkan, menjadi angin segar bagi CPO. Lantaran, Pemerintah Indonesia tetap melanjutkan komitmen untuk mengonsumsi bahan bakar terbarukan dari biodiesel sawit. Mandatori 10% berlanjut menjadi 15%, dan digadang-gadang akan menjadi 20% pada tahun berikutnya.
Otomatis permintaan domestik akan CPO di tahun 2015 ini, cenderung akan meningkat kembali. Di sisi lain, permintaan pasar . . .









