InfoSAWIT, JAKARTA - Harga yang mulai membaik pada awal 2020, memungkinkan pelaku perkebunan kelapa sawit nasional melakukan kegiatan pemupukan dan memulihkan kebunnya menyusul iklim cuaca yang mendukung terjadi kenaikan produksi CPO & PKO rata-rata Jan-Jun 2020 sebesar 3,9 juta ton. Lantas kembali meningkat menjadi 4,6 juta ton untuk rata-rata Juli-Des 2020. Bersamaan dengan kenaikan tersebut, harga minyak sawit mentah (CPO) dan minyak nabati naik dari rata – rata US$ 646 /ton di semester I 2020 menjadi US$ 775 /ton pada semester II 2020.
Di dalam negeri, kebijakan pembatasan skala besar (PSBB) akibat Covid-19 menyebabkan penurunan konsumsi untuk pangan yang tercatat turun pada 2020, dari 801 ribu ton pada Januari menjadi 638 ribu ton pada Juni 2020.
Namun demikian diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, adanya pelonggaran pembatasan mendorong peningkatan produksi ke 723 ribu ton pada Desember 2020.
“Konsumsi untuk oleokimia terus naik karena meningkatnya konsumsi sabun dan bahan pembersih dari 89 ribu ton pada Januari menjadi 197 ribu ton pada Desember 2020. Konsumsi untuk biodiesel naik dibandingkan 2019 karena perubahan kebijakan dari B20 menjadi B30. Secara total 2020, konsumsi produk minyak sawit dalam negeri 17,35 juta ton naik 3,6% dari tahun 2019 sebesar 16,75 juta ton,” katanya dalam Press Conference yang dihadiri InfoSAWIT, Kamis (4/2/2021).
Akibat dari situasi pandemi yang berdampak global, performa volume ekspor minyak sawit Indonesia pada 2020 dengan total ekspor 34,0 juta ton bergeser turun dibandingkan dengan performa 2019 dengan total ekspor sebesar 37,39 juta ton. Penurunan terbesar terjadi ke China (-1,96 juta ton), ke EU (-712,7 ribu ton), ke Bangladesh (-323,9 ribu ton), ke Timur Tengah (-280,7 ribu ton), dan ke Afrika (-249,2 ribu ton) sedangkan ke Pakistan naik (+275,7 ribu ton) dan ke India naik 111,7 ribu ton. Meskipun terjadi penurunan volume ekspor, secara nilai, ekspor tahun 2020 yang mencapai US$ 22,97 miliar lebih tinggi dari tahun 2019 sebesar US$ 20,22 miliar. (T2)







