InfoSAWIT, JAKARTA – Dalam catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPK), sejatinya tahun 2020 diawali dengan optimisme oleh industri sawit karena pada Desember 2019 harga CPO cif Rotterdam mencapai US$ 787 /ton yang mulai bergerak naik dari US$ 542 /ton sejak Agustus 2019 setelah berada pada rata-rata US$ 524 /ton selama Januari-Agustus 2019.
Namun, pada periode Januari-Mei 2020 harga turun dan mencapai US$ 526 /ton. Kejadian turunnya harga minyak sawit mentah (CPO), dikatakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono disebabkan oleh tiga hal, pertama, permintaan di China mulai menurun karena pengaruh Covid-19.
Lantas kedua, tekanan pasokan kedelai ke China karena perang dagang dengan Amerika berkurang dengan panen kedelai di Brazil, dan ketiga, anjloknya harga minyak bumi yang mencapai US$ 27/barel (US$ 147 /ton).
Namund demikian pada Mei 2020, China sudah pulih dari pandemi dan meningkatkan impor besar- besaran oilseed dan minyak nabati untuk memulihkan stok yang telah terkuras yang mendorong harga minyak nabati naik. “Pidato Presiden Jokowi pada Agustus 2020 yang menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus melaksanakan program biodiesel dalam negeri ikut mempertahankan tren naik harga minyak nabati,” kata Joko dalam Press Conference yang dihadiri InfoSAWIT, Kamis (4/2/2021).
Sementara, neraca perdagangan bulanan Indonesia pada 2019 hampir selalu negatif dengan total defisit sebesar US$ 3,23 miliar sedangkan pada tahun 2020 selalu positif kecuali pada bulan Januari dan April dengan total nilai US$ 21,72 miliar. Selama tahun 2020, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$ 21,27, dimana ekspor produk kelapa sawit menyumbang sebesar US$ 22,97 miliar.
“Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa di masa pandemi, kontribusi minyak sawit terhadap devisa negara sangat signifikan dalam menjaga neraca perdagangan nasional tetap positif,” tandas Joko. (T2)







