InfoSAWIT, JAKARTA - Kembali kepada cerita Sunar dan Isah, pasangan suami istri yang menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit milik Bapak saya. Terihat Isah sebagai istri buruh tani yang cerdas dan rajin. Ia berinisiatif memelihara beberapa pohon jengkol, menanam sayuran di sela-sela pohon sawit, dan memelihara ayam untuk tambahan penghasilan keluarga mereka.
Tanpa ia sadari, Isah sedang mengupayakan polikultur di perkebunan sawit. Teknik perkebunan ini sangat berlawanan dengan apa yang dituduhkan pihak-pihak yang anti sawit dengan menyatakan perkebunan sawit adalah monokultur. Tak ada yang lebih membuat takjub dibanding melihat pohon jengkol tumbuh di sela-sela sawit. Pohonnya bisa sangat besar dan subur, karena secara tak langsung mereka juga menikmati pupuk yang sebenarnya diberikan untuk pohon sawit.
Di sela-sela pohon jengkol dan sawit, biasanya muncul semut rangrang dalam jumlah luar biasa besar. Mereka bertugas membantu penyerbukan bunga di sekitarnya. Telur semut rangrang juga disukai burung karnivora seperti murai. Karena itu, lahan sawit sering menjadi habitat bagi banyak burung.
Saat berjalan-jalan ke perkebunan milik petani kecil lain, saya masih bisa mellihat mereka menyisihkan lahan berlumpur untuk memelihara sapi atau kerbau. Bapak saya bercerita kalau tanah basah tidak terlalu disukai sawit. Jika tergenang, sawit akan mogok berbuah. Bagi perusahaan besar dan bermodal, solusi biasanya dikeringkan dengan dibuat kanal. Namun petani kecil tak akan sanggup membuat hal seperti itu. Karena itulah mereka lebih suka memanfaatkannya sebagai tempat memelihara ikan atau binatang yang menyenangi lumpur atau air.
Beberapa kali kami bereksperimen memelihara kambing, kelinci dan ikan. Walau sulit dan banyak akhirnya yang mati, setidaknya kami berhasil membuktikan sawit bisa hidup berdampingan dengan habitat satwa lainnya.
Salah satu yang juga menguntungkan dan sempat kami coba adalah beternak jangkrik. Dengan pasokan dedaunan tak terbatas yang bisa didapat dari rumput maupun sawit, jangkrik bisa tumbuh dalam hitungan minggu dan siap dipanen. (Hariadhi/anak petani sawit)
Terbit di Majalah InfoSAWIT edisi Desember 2020
Baca di: http://store.infosawit.com/







