Berita Lintas
sawitbaik

INFO KOMUNIKASI : Strategi Komunikasi di Kebun Sawit



INFO KOMUNIKASI : Strategi Komunikasi di Kebun Sawit

MENGUNGKAPKAN KEBENARAN BUKAN PEMBENARAN

Dulu bisa jadi masih bisa mengelak, namun kini perusahaan perkebunan kelapa sawit mesti mampu memberikan informasi kemajuan proses budidaya yang dilakukan. Sebagai bentuk komitmen dan mematahkan anggapan negatif

Pesatnya pertumbuhan industri kelapa sawit nasional, kini dipandang sebagai ancaman bagi negara-nagara di Eropa. Akibat persaingan minyak nabati yang dianggap menguntungkan minyak sawit mentah (CPO), yang notabene dikuasai pelaku asal Indonesia dan Malaysia.

Kondisi demikian akhirnya berujung pada munculnya berbagai tudingan negatif terhadap industri kelapa sawit, utamanya di Indonesia. Santernya isu negatif yang muncul baik di dalam  dan luar negeri telah mencapai tahap yang mencemaskan jika tidak mau dibilang krisis. Bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dikelola secara private, mungkin tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham. Hanya saja bakal tetap mengganggu operasional perusahaan.

Bila dicermati lebih dalam, sejatinya isu negatif  itu tersebar luas melalui sebuah saluran yang disebut dengan “Media”. Media memiliki beragam bentuk seperti Media Online, Social Media, Media Cetak, Media Audio, maupun Media Audio Visual. Media selain berfungsi sebagai alat komunikasi massa juga mampu menjadi alat penyampai pesan kepada publik, atau antar personal.

Seperti menyitir sebuah peribahasa, “Jika anda ingin membuat seorang penjahat menjadi seperti orang suci gunakanlah kekuatan media”. Ya! Hal tersebut sangatlah tepat, terbukti kini cara itu dilakukan di Indonesia.

Pembenaran VS Kebenaran

Isu “kejahatan” perkebunan kelapa sawit yang kerap diangkat LSM biasanya mengenai perusakan lingkungan hidup. Bisa jadi isu benar, bisa juga tidak, sebab mesti dilakukan riset mendalam di lapangan. Sebab dari isu lingkungan yang diangkat, terkadang kontribusi industri kelapa sawit nasional yang mampu mengerek perekonomian perdesaan jarang sekali di ekspose. Bahkan sama sekali tidak masuk perhitungan.

Sehingga isu yang diangkat terkesan hanya menjadi sebuah  pembenaran, disatu sisi mendorong pelestarian lingkungan untuk kehidupan generasi mendatang, disisi lain peningkatan ekonomi perdesaan perlu di dorong. Bagaimana Indonesia bakal memiliki generasi yang berkualitas bila dalam kondisi yang tidak sejahtera?

Pola pikir satu sisi sering dipergunakan untuk melakukan pembenaran terhadap sesuatu tindakan, hal inilah yang membuat kebenaran seakan tabu untuk diungkapkan. Sebagai sebuah analogi belaka jika disebuah daerah hutan terdapat masyarakat yang tertinggal serta hidup dibawah standar, tidak pernah mengenyam pendidikan apalagi teknologi, bukankah kita sebagai sesama manusia memiliki kewajiban untuk membantu mereka?

Padahal banyak perkebunan kelapa sawit yang telah menerapkan program tanggung jawab sosial perusahaan(CSR) yang luar biasa bagus. Bahkan berhasil mengentaskan kemiskinan, bisa memberikan kesempatan kepada masyarakat pedalaman untuk hidup layak, mengenyam pendidikan tinggi dan pada akhirnya mencapai kesejahteraan. Namun sayangnya publik tidak pernah tahu akan hal ini.

Pemborosan Biaya?

Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas komunikasi merupakan sebuah cost center yang tidak dapat dengan mudah dihitung ROI (Return of Investment) –nya. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan perkebunan yang enggan menggunakan atau memperkuat komunikasi perusahaannya. Hanya beberapa perusahaan perkebunan besar saja yang baru mulai “melek” terhadap pentingnya komunikasi dalam keberlanjutan usaha.

Padahal dengan. . .