Disela pesatnya pertumbuhan industri perkebunan kelapa sawit nasional. Beberapa pemodal asal daerah pun nampak tak mau ketinggalan. Bahkan tidak sedikit yang bakal menjelma menjadi pelaku dengan perkebunan kelapa sawit besar.
Bisa jadi banyak yang menganggap pemain perkebunan kelapa sawit nasional, masih didominasi pemilik konglomerat nasional. Iya, anggapan itu memang benar adanya, tapi itu untuk sepuluh tahun silam.
Kini, kondisinya sudah jauh berbeda, lantaran pemodal asal daerah pun seperti tak mau ketinggalan, dan tidak sekadar hendak mencicipi legitnya industri perkebunan kelapa sawit nasional. Terbukti banyak diantaranya bahkan sudah memiliki landbank ratusan ribu hektar, dan membentuk perusahaan perkebunan kelapa sawit secara profesional dan modern, sementara yang lainnya terus mengejar ketertinggalan.
Bila kondisinya demikian tentu saja pemain lokal tidak bisa dianggap remeh, lantaran bisa disetarakan dengan perkebunan kelapa sawit nasional yang telah berdiri duluan. Tidak itu saja, munculnya pemain lokal menjadi angin segar bagi bertumbuhnya perekonomian daerah setempat.
Berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, tercatat ada beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dibangun dan dirintis oleh pemodal lokal, sebut saja perkebunan kelapa sawit milik Haji Abdul Rasyid, asal Kalimantan Tengah, bernama PT Citra Borneo Indah. Telah menjelma menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang patut diperhitungkan.
Lahirnya PT Citra Borneo Indah, tidak lepas dari sosok Abdul Rasyid, yang sebelumnya adalah seorang anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Utusan Daerah periode 1992-1997. Kala itu Abdul Rasyid masih dikenal sebagai pengusaha kayu asal Kalteng. Banyak pihak tidak menduga bila di kemudian hari Abdul Rasyid mampu bertahan, bahkan bisa membangun perkebunan kelapa sawit dengan luasan ribuan hektar.
Padahal menurut kesaksian Ketua Umum Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman, saat mengunjungi kebun sawit milik Abdul Rasyid, di Simpang Sulung, Kalteng, 2012 silam, dikala booming bisnis kayu, pemodal lokal kerap mendapat tekanan dan intimidasi dari Rezim Orde Baru. Irman pun merasa bangga lantaran ada putra daerah yang bisa bertahan dan akhirnya memiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan pengelolaan yang profesional.
Bahkan pada penghujung tahun 2013 lalu, lewat anak usahanya PT Sawit Sumbermas Sarana telah mampu melantai di Bursa Efek Indonesia, dan resmi menjadi perusahaan publik.
Perusahaan yang memiliki kantor pusat di Pangkalanbun Kalimantan Tengah itu, kini terus mengembangkan sayap bisnisnya di Kalteng. Merujuk dari data perusahaan, sampai September 2014 lalu, luas lahan yang dimiliki PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, seluas 78.070 hektare, dimana lahan tertanam seluas 34.064 ha.
Kabarnya perusahaan bakal mempercepat proses penanaman sisa lahan yang dimiliki, dengan program penanaman baru seluas 5.000 ha hingga 5.500 ha per tahun. Sekaligus melakukan akuisisi perusahaan perkebunan kelapa sawit, guna mendorong peningkatan produksi CPO perusahaan.
Dikatakan Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Rimbun Situmorang, akhir tahun 2014 lalu perusahaan telah mengakuisisi dua perusahaan kelapa sawit asal Kalteng, PT Tanjung Sawit Abadi (TSA) dan PT Sawit Multi Utama (SMU) dari PT Citra Borneo Indah. “Akuisisi ini menjadi salah satu solusi untuk memenuhi tingginya permintaan produk-produk CPO di masa datang,” kata Rimbun saat acara Publik Ekspose perusahaan di Jakarta, akhir Desember 2014 silam.
Nah, bila di Kalteng ada Abdul Rasyid, maka bergeser ke arah Timur, atau provinsi Kalimantan Timur, ada Bachtiar serta Ahmad Gunung dan Wishnu Wardana. Para pemodal asal daerah itu kini tengah mengembangkan perkebunan kelapa sawit.
Bachtiar sebelumnya adalah pelaku bisnis batubara, dengan bendera perusahaan Cahaya Resources Energy. Tercatat Bachtiar telah memulai bisnis batubara sekitar satu dasawarsa silam. Bahkan produk batubara briket yang diekspor ke berbagai negara dengan brand Cahaya Tiara Coal, telah memiliki sertifikat dan standar kualitas internasional.
Sebelum melepas bisnis batubaranya . . .










