Berita Lintas
sawitbaik

Menilik Jejak Pemikiran Bungaran Saragih, 76 Tahun Sang Begawan Agribisnis Indonesia



Menilik Jejak Pemikiran Bungaran Saragih, 76 Tahun Sang Begawan Agribisnis Indonesia

InfoSAWIT, JAKARTA –  “Dalam banyak krisis yang pernah dialami Indonesia, sistem agrisbisnis khususnya on farm selalu menjadi ketel pengaman bagi perekonomian kita, bahkan pada 1998 lalu disaat perekonomian kita mengalami krisis justru agribisnis booming. Sekarang tidak booming tetapi tidak negatif pertumbuhannya,”

Itulah sepenggal ucap kata dari seorang Bungaran Saragih, Menteri Pertanian era Megawati Soekarno Putri menjadi Presiden RI. Penggalan kata yang diucapkan sosok yang kini telah berumur 76 tahun itu,  dalam sebuah Webinar belum lama ini bukannya tanpa bukti, merujuk informasi dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sepanjang 2020 lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tergerus 2,07%, ini akibat dampak dari munculnya pandemi covid-19 yang telah secara langsung menghentikan sebagian besar aktivitas ekonomi.

Seluruh sektor dari manufaktur, perdagangan, transportasi, akomodasi & mamin, pertambangan hingga konstruksi mengalamai kontraksi, namun tidak dengan sektor pertanian lantaran tercatat tumbuh 1,75% dan memliki kontribusi ke PDB hingga 13,70%.

“Kendati tidak setinggi tahu 2019 lalu yang mencapai petumbuhan hingga 3,61%, namun sektor pertanian masih tumbuh positif,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kemenko, Musdhalifah Machmud, dalam sebuah acara “Webinar Bedah Buku: Suara Agribisnis Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih” yang diikuti InfoSAWIT, Senin (19/4/20201).

Lebih lanjut, tutur Musdhalifah, sejatinya agribisnis merupakan paradigma baru pembangunan ekonomi berbasis pertanian. Lantaran yang menjadi unsur utama pembangunan agribisnis, adalah dunia usaha skala mikro, kecil, menengah, besar. “Pemerintah merupakan Fasilitator dalam mewujudkan Pembangunan Agribisnis dimaksud,” katanya.

Secara umum sistem agribisnis meliputi: Subsistem Primer (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan) yang didukung secara terintegrasi oleh subsistem: input, agroindustri, pemasaran dan jasa penunjang, yang mengubah sumber daya menjadi produk-produk agribisnis.

Kata Musdhalifah, sistem dan usaha agribisnis mesti memiliki karakteristik, berdaya saing, berkerakyatan, terdesentralisasi dan berkelanjutan. “Pemikiran Prof. Bungaran Saragih sangat relevan dengan kebijakan pembangunan pertanian nasional saat ini dan masa mendatang, terkait sistem dan usaha agribisnis melalui peran aktif stakeholder,” catat Musdhalifah.

Sementara dalam pandangan Bayu Krisnamurthi, yang pernah menjabat Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan, ada yang konsisten dari ketiga buku Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih; yang menjangkau rentang waktu lebih dari satu dekade. 

Pertama, tutur Bayu, ketiga buku yang berisi gabungan artikel yang terangkum dalam buku setebal 700 halaman tersebut,  tercatat konsisten mendiskusikan, membahas, membuat refleksi, dan juga membuat prakiraan dan ‘outlook’ atas berbagai isu agribisnis. 

Kedua, ketiga buku tersebut secara konsisten membawakan pemikiran agribisnis dalam bahasa umum dan sederhana sebagaimana maksudnya seperti yang dikatakan pada mukadimah buku pertama. “Pemikiran tentang agribisnis sebenarnya memang dapat digambarkan dalam skema yang sederhana. Namun kondisi dan permasalahan aktual yang dihadapi pertanian khususnya, dan perekonomian pada umumnya membuat situasi agribisnis real menjadi sangat kompleks dan sama sekali tidak sederhana,” kata Bayu.

Sebab itu, dibutuhkan pemahaman yang mendalam disertai dengan kepiawaian menuangkan pikiran dalam bahasa umum dan sederhana agar masyarakat dapat mengerti apa yang terjadi pada agribisnis di Indonesia.

Ketiga, buku Suara Agribisnis juga menjadi ‘saksi sejarah’ bahwa setelah lebih dari satu dekade beberapa isu agribisnis ternyata “konsisten” ada dan belum juga selesai. Kata Bayu, misalnya, soal impor beras. Bahkan pada beberapa bagian dari Buku 1, Buku 2 dan Buku 3 berulang membahas masalah impor beras itu dengan pandangan yang spesifik pada rentang waktu masing-masing buku. 

“Atau tentang perkebunan sawit, yang terungkap berulang menghadapi persoalan harga CPO, peremajaan dan perkebunan sawit rakyat,” kata Bayu yang juga merupakan murid Prof. Bungaran.

Sementara murid Prof Bungaran lainnya, Tungkot Sipayung yang kini aktif di lembaga Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), memandang pemikiran Prof. Bungara Saragih dalam bingkai  Bungaranomics, yang telah membedah aspek industri agribisnis lewat Pendekatan Sistem dan Usaha Agribisnis, yang terbagi menjadi beberapa bagian.

Misalnya, dari Sub-Sistem Agribisnis Hulu (Upstream Agribusiness) meliputi, industri Pembibitan, industri Pupuk, industri pestisida, serta industri alat dan mesin. Kemudian Sub-sistem  Usaha Pertanian (on-farm agribusiness), mencakup Pertanian, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

Selanjutnya, Subsistem Agribisnis  Hilir (Downstream Agribusiness) meliputi, industri  makanan  dan minuman, industri  produk  serat alam, industri biofuel, industri oleokimia dan biomaterial, food service industry,   dan lain-lain.

Saat ini kata Tungkot, sektor agribisnis di hulu telah berkembang, seperti idustri kelapa sawit bahkan komoditas ini teleh berkontribusi tinggi pada pendapatan negara, namun kedepan tidak menutup kemungkinan sektor hilir yang akan jauh lebih besar, lantaran sampai saat ini kontribusi sektor hilir sawit belum dihitung sesuai industrinya tetapi dimasukan dalam kelompok industry lain. “Kalau saja ini dihitung menjadi kelompok minyak nabati, maka kontribusi minyak sawit dari sektor hilir akan sangat luar biasa,” katanya.

Tungkot memandang, sejatinya pendekatan kesisteman dan integrasi mesti dalam bentuk vertical, sebab itu elemen (subsistem agribisnis) harus berkembang, terintegrasi, sinergis dan berkelanjutan. Dimana Lokomotif-nya bisa saling bergantian antara on-farm, downstream, atau upstream.

Lebih lanjut tutur Tungkot, pathway indusrialisasi  agribisnis merujuk pada supply Side dan faktor  - driven ke capital -  driven, lalu ke Innovation-driven.

Untuk contoh saat ini industri agribisnis promosi ekspor yang relatif berhasil di Indonesia seperti industri   minyak sawit, mengadopsi pendekatan sistem dan usaha agribisnis.  Sementara untuk industri agribisnis subsitusi impor yang relatif berhasil namun kurang konsisten dengan pendekatan sistem dan agribisnis seperti industri Ayam Ras, terancam gagal. “Lantas industri subsitusi impor yang gagal atau jalan di tempat seperti susu, gula, tidak mengadopsi pendekatan dan usaha agribisnis, yang telah menjadi pemiikiran besar bagi Prof Bungaran Saragih,” tandas Tungkot. (T2)