Berita Lintas
sawitbaik

Cara Menetapkan Estimasi Dan Realisasi Produksi Kelapa Sawit



Cara Menetapkan Estimasi Dan Realisasi Produksi Kelapa Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Sejatinya bagi para pelaku perkebunan proses produksi ibarat “jantung” yang harus terus dijaga, supaya hasilnya bisa maksimal. Sebab untung atau tidak nya suatu perusahaan perkebunan kelapa sawit bakal tergantung dari hasil produksi. Jika kondisi produksi bisa terjaga atau malah melonjak, maka perusahaan bakal mendapatkan manfaat, sebab meningkatnya produksi bakal mendorong peningkatan laba, kendati untuk saat ini harga minyak sawit mentah (CPO) lagi melempem.

Sebetulnya, tulisan ini  terinsipirasi dari diskusi antara sesama planters dan praktisi perkebunan kelapa sawit, mengenai metode pendekatan yang lebih rasional dalam melakukan estimasi produksi. Sehingga harapannya perbedaan antara estimasi produksi dengan hasil realisasi tidak mengalami perbedaan yang begitu besar.

Sebab itu dalam menghitung estimasi produksi terlebih dahulu mesti diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menentukan tinggi-rendahnya produksi kelapa sawit dan disepakati secara bersama, lantas dilanjutkan dengan pembahasan, termasuk membahas faktor-faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kualitas hasil estimasi produksi.

Dalam setiap menentukan estimasi produksi biasanya tidak lepas dari berbagai persoalan misalnya, pertama, perbedaan yang terlalu besar antara hasil estimasi produksi dengan realisasi produksi, perbedaan baik secara posistif maupun negatif.

Kedua, perbedaan antara standar hasil produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan produsen kecambah dengan hasil realisasi produksi yang dihasilkan oleh konsumen, yang meliputi jumlah janjang/pohon/tahun, berat janjang rata-rata, hasil produksi (ton/ha/tahun).

Dan ketiga, terkait metode perhitungan dalam melakukan estimasi produksi, serta teknis dalam melakukan sensus produksi, yang menjadi dasar awal dalam melakukan perhitungan estimasi produksi.

 

Komponen Estimasi Produksi

Seperti diketahui sebelumnya, dalam estimasi produksi mesti diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi hasil estimasi produksi diantaranya meliputi, jumlah populasi tanaman kelapa sawit dalam 1 hektar (Jumlah pokok/Hektar).

Keseragaman pertumbuhan tanaman dan keseragaman tahun tanam (Homogenitas tanaman), lantas jumlah Pokok Produktif ( Jumlah tanaman yang aktif  berproduksi ), memiliki bunga jantan dan betina dalam satu pohon.

Berat janjang rata rata (BJR) juga perlu dihitung dimana data penghitungan bisa diperoleh pada saat sensus produksi, dengan cara menimbang beberapa janjang (TBS). Jumlah janjang rata–rata per pohon juga perlu dihitung, penghitungan itu didapat dengan melakukan sensus dan dapat juga dengan menggunakan standar yang dikeluarkan oleh produsen kecambah, yang disesuaikan dengan umur tanaman dan kelas kesesuaian lahan.

Perlu juga dalam melakukan estimasi produksi menghitung tren pola hujan, estimasi tren pola hujan ini bisa juga digunakan untuk memprediksi sebaran produksi per bulan. Terakhir mengumpulkan data aplikasi pemupukan dalam 2 atau 3 tahun terakhir.

Berdasarkan  komponen estimasi produksi tersebut, berbagai macam argumentasi sering disampaikan oleh para praktisi perkebunan. Perdebatan yang seringkali muncul adalah, menentukan faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan estimasi produksi.

Bila antara estimasi dengan realisasi produksi terjadi perbedaan yang terlalu besar, beberapa kalangan praktisi perkebunan berpendapat bahwa hal itu disebabkan lantaran faktor eksternal, bukan diakibatkan oleh faktor internal tanaman. Artinya faktor teknis perawatan tanaman lebih dominan, dibandingkan faktor internal tanaman, pendapat ini biasanya di dukung oleh kalangan produsen kecambah.

Untuk kasus di Indonesia, jumlah produsen kecambah kelapa sawit yang memiliki sertifikasi usaha yang diakui oleh pemerintah, tercatat ada belasan produsen, dan masing-masing produsen mengeluarkan daftar varietas yang dimiliki berikut dengan keunggulan masing-masing varietas, serta menerbitkan standar buah kelapa sawit yang disesuaikan dengan kelas kesesuaian lahan serta umur tanaman.

Salah satu acuan  dasar yang digunakan dalam menghitung estimasi produksi adalah potensi produksi tanaman kelapa sawit menurut umur tanaman dan kelas kesesuaian lahan yang dikeluarkan oleh produsen kecambah. Kemampuan membaca serta menganalisa standar yang dikeluarkan oleh produsen kecambah bakal berpengaruh terhadap kualitas estimasi produksi yang dihasilkan, atau dengan kata lain kemampuan literasi bakal sangat membantu mendukung dalam penyusunan estimasi produksi, kemampuan literasi didapat dari mempelajari seluk beluk tentang produksi kelapa sawit, serta tingkat pengalaman dilapangan.

Kondisi fatal yang kerap kali terjadi pada saat menyusun estimasi produksi ialah adanya kekhawatiran yang tanpa didasari ilmu yang cukup, dan tanpa mengacu terhadap standar potensi  produksi yang dikeluarkan oleh produsen kecambah. Kondisi demikian pernah dialami salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit saat menyusun budget produksi tidak mengacu pada standar yang telah dikeluarkan oleh produsen kecambah.

Misalnya, untuk tanaman usia menghasilkan tahun pertama (TM-1) menetapkan jumlah rata-rata janjang/pohon/tahun hanya 8 janjang, dengan argumentasi bahwa kualitas dan kondisi tanaman tidak standar, sedangkan berdasarkan standar dari PPKS medan untuk TM 1, dengan kelas kesesuaian lahan S3, maka jumlah rata-rata janjang /pohon adalah 15,9 janjang/pohon.

Nah, bila cara demikian dijadikan dasar dalam menentukan estimasi produksi, maka bisa dinilai kualitas estimasi produksi yang bakal dihasilkan, ini menunjukan kurangnya pemahaman tentang alur pengambilan kesimpulan dalam menentukan estimasi produksi. (Penulis: Eko Zulkifli /Head of Research and Development PT Anugerah Sawit Andalan)

Terbit pada majalah InfoSAWIT edisi Januari 2016

http://store.infosawit.com/