InfoSAWIT, BOGOR - Prospek Industri Hilir sawit Harus diakui bahwa Indonesia saat ini adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun konsumsi untuk domestic diperkirakan hanya seperempat dari total produksi nasional karena sebagian besar diekspor dalam bentuk bahan baku minyak sawit atau minyak goreng.
Walaupun kata Purwiyatno Hariyadi dari Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center IPB, permintaan pasar akan minyak sawit masih besar. Namun kedepan pasar akan menemui titik jenuh. Oleh karena itu, mulai saat ini harus disiapkan konsep pengembangan ke arah produk hilir sawit. “Hal ini penting guna tetap menjaga kompetensi dari produk kelapa sawit di pasar internasional,” tegasnya.
Menurutnya, produk turunan sawit yang bisa dikembangkan di Indonesia sangat banyak dan beragam. Kendati kita pun harus pandai memilah mana produk yang nantinya bisa signifikan guna memberikan nilai tambah dan memiliki daya saing untuk kemajuan perekonomian bangsa.
Purwiyatno mengungkapkan, ada beberapa karakteristik dari minyak sawit yang bisa dimanfaatkan atau dikembangkan menjadi produk hilir sawit. Misalnya mikronutrien pada minyak sawit yakni betakaroten dan tokotrienol. Apalagi kandungan betakaroten yang terkandung di dalam minyak sawit yang banyak mengandung vitamin A.
Selain itu, ada produk-produk yang sifatnya biodegradable dan food grade. Seperti gemuk, pelumas untuk industri minuman makanan dan industri permesinan. Dimana persyaratan standar ISO 2000 untuk keamanan pangan mengisyaratkan bahwa gemuk atau pelumas itu harus biodegradable yang ramah untuk lingkungan dan food grade yang aman bagi makanan yang dikonsumsi. “Potensinya sangat luar biasa besarnya bila dikembangkan di Indonesia,” tegas pria yang hobi membaca dan mendengarkan musik.
Produk yang memiliki nilai tambah lainnya adalah aneka food ingredient, pharmaceutical ataupun chemicals ingredient yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Contohnya pengembangan produk speciality fats untuk makanan coklat. Kendati menurutnya, jumlahnya tidak terlalu besar dari segi permintaannya, akan tetapi memiliki nilai tambah yang tinggi. Oleh karena itu, pengembangan produk hilir sawit harus didorong oleh pemerintah, caranya dengan penguatan risetnya.
Menurut Purwiyatno, riset untuk sawit intensitasnya masih minim bila dibandingkan dengan Malaysia. “Diperkirakan Indonesia sudah jauh tertinggal dengan Malaysia. Makanya untuk mengejar ketertinggalan harus mulai menggenjot riset hilir sawit,” ungkapnya kepada InfoSAWIT.
Dia menambahkan, riset di Indonesia masih lebih banyak pada sektor hulu seperti bagaimana meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan pupuk dan hama penyakit. “Riset masih terfokus kepada industri hulunya, tetapi untuk industri hilirnya untuk bagaimana meningkatkan nilai tambah produk turunannya itu masih sangat terbatas,” kata Purwiyatno.
Kendati, harus diakui olehnya, bahwa keterkaitan riset dengan industri belum sinergi dengan baik, dimana pihak industri belum merasa penting mengenai peran riset guna memajukan industri sawit. “Sehingga ini harus didorong oleh pemerintah dengan memberi skema-skema dalam bentuk insentif terhadap dunia industri,” tukas Purwiyatno. (T2)
Cuplikan artikel dari Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2010










