InfoSAWIT, CHINA - China atau Tiongkok merupakan pasar utama minyak sawit (PO), minyak inti sawit (PKO) dan turunannya dari Indonesia dan Malaysia. Dalam laporan Chain Reaction Research mencatat, peran pasar Tiongkok dan aktor Tiongkok di sepanjang rantai pasokan minyak sawit, mulai dari produksi di sektor hulu, tengah hingga sektor hilir, serta posisi lembaga keuangan Tiongkok di berbagai level industry tersebut.
Masih daam laporan yang diterbitkan Chain Reaction Research, terdapat 5 temuan utama yang dapat mempengaruhi pasar minyak sawit di China, pertama, terdapat empat perusahaan China mengoperasikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia seluas 100.000 ha, dengan landbank yang jauh lebih besar. Julong Group (Tianjin Julong), ZTE (Zonergy), Henan Jiujiu Chemical Co. dan Shanghai Xinjiu Chemical Co. tidak memiliki kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) dan tiga dari perusahaan telah melihat masalah keberlanjutan yang terdokumentasi.
Kedua, Pada 2019 lalu, China merupakan importir minyak sawit terbesar kedua dengan pangsa 13 persen dan konsumen terbesar ketiga secara global. Selain itu, Indonesia mengimpor minyak inti sawit dan turunan minyak sawit dalam jumlah besar, termasuk palm fatty acid distillates (PFAD) untuk industri kimia, expeller inti sawit untuk digunakan sebagai pakan ternak berprotein tinggi, dan biodiesel sawit.
Ketiga, Tujuh dari 10 besar pemasok minyak sawit Indonesia ke China memiliki kebijakan tanpa deforestasi, gambut dan eksploitasi (NDPE). Kebocoran penyulingan tanpa kebijakan NDPE atau yang tertinggal dalam implementasinya menyumbang setidaknya 12% dari pasokan minyak sawit Indonesia ke China.
Keempat, 80% minyak sawit dikonsumsi sebagai minyak nabati di Cina sementara 20 persen digunakan dalam proses industri. Minyak sawit bersaing dengan minyak kedelai sebagai minyak nabati utama, terhitung sekitar seperlima dari konsumsi minyak nabati. Ini digunakan terutama untuk mie instan, makanan olahan, penggorengan, dan pembuatan kue industri. Kebijakan terkait telapak tangan dan pelaporan transparan adalah pengecualian.
Kelima, Peluncuran China Sustainable Palm Oil Alliance pada 2018 menyebabkan pertumbuhan pesat dalam jumlah anggota RSPO China. Namun, dengan pangsa penggunaan minyak sawit bersertifikat sekitar 2 persen pada pertengahan tahun 2020, kecil kemungkinan mereka mencapai tujuan 10 persen pada tahun 2020.
Masih dalam laporan Chain Reaction Research, Bank China memberikan kredit sebesar US$ 3,9 miliar kepada perusahaan hulu kelapa sawit. Dibandingkan dengan lembaga keuangan dari negara-negara Asia lainnya, Cina memainkan peran yang kurang penting, menyumbang 7 persen dari pembiayaan hulu kelapa sawit antara 2013-2019. “Bank-bank China sejauh ini belum menerbitkan kebijakan dan standar mitigasi risiko LST untuk klien di sektor-sektor berisiko deforestasi,” catat Chain Reaction Research, dalam publikasi yang didapat InfoSAWIT.
Secara umum, China adalah aktor kunci dalam rantai pasokan minyak sawit global, China sekarang adalah importir terbesar kedua dan konsumen minyak sawit terbesar ketiga di dunia. Perusahaan China hadir di semua segmen rantai pasokan minyak sawit internasional, mulai dari produksi hulu hingga pemurnian dan perdagangan hingga pemrosesan hilir.
“Peran ini mencakup investasi di perkebunan kelapa sawit di Indonesia serta impor dan konsumsi minyak sawit yang besar, terutama sebagai minyak nabati, didorong oleh populasi yang besar dan terus bertambah. Permintaan minyak sawit di Cina terutama bergantung pada penggunaan dalam makanan dan oleokimia,” demikian catat Chain Reaction Research. (T2)







