InfoSAWIT, JAKARTA - Gliserin yang dapat diproduksi dari lemak hewan atau minyak nabati seperti dari minyak kelapa sawit, rupanya memiliki peran penting dalam industri kosmetik. Teksturnya yang kental, berwarna bening, dan yang terpenting tidak beracun, menjadikannya ideal untuk berbagai aplikasi seperti misalnya produk lotion yang digunakan untuk menjaga kelembutan dan kehalusan kulit.
Pembahasan seputar gliserin sebagai bahan utama dalam pembuatan produk kosmetik, secara dalam dibahas pada buku setebal 476 halaman berjudul Glycerine (Cosmetic Science and Technology), yang merupakan hasil editan Eric Jungermann dan Norman O.V. Sonntag.
Pada bagian awal buku, dimulai dengan pengenalan tentang gliserin yang sering juga disebut glycerol. Gliserin pertama kali ditemukan lebih dari dua abad lalu oleh seorang kimiawan asal Swedia bernama Scheele. Ketika itu ia tengah memanaskan campuran litharge (lead oxide) dan minyak olive, kemudian menghasilkan cairan yang rasanya manis. Cairan tersebut lalu dipisahkan dan dinamai ‘sweet oil’ (oelsuess).
Seorang kimiawan asal Perancis bernama Michel Eugene Chevreul kemudian mengubah nama ‘sweet oil’ menjadi glycerine (gliserin), yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti manis. Produksi gliserin secara alami paling banyak ditemui pada pembuatan sabun dan produksi fatty acid dengan memisahkan lemak (hydrolysis).
Produksi fatty acid methyl ester (FAME) dari minyak dan lemak yang kerap disebut sebagai biodiesel sawit juga menghasilkan produk samping gliserin. Berbagai proses produksi gliserin dari minyak dan lemak ini dibahas dalam bab tiga.
Sementara bab berikutnya mengulas metode produksi gliserin dari bahan nonfat, termasuk produksi gliserin sintetis dari petrokimia. Bab 5 sampai bab 7 fokus pada sifat (properties) kimia dan fisik dari gliserin. Cairan gliserin berwarna bening, bertekstur kental, tetap stabil hampir di semua kondisi, tidak beracun, mudah dicerna dan ramah lingkungan. Selain itu, rasa dan aromanya yang enak menjadikannya bahan ideal untuk aplikasi kosmetik ataupun makanan.
Pada bab-bab akhir, bahasan utama mengenai peran gliserin untuk beragam aplikasi di industri kosmetik dan toiletries. Pada bab 13 sampai 15 meliputi bahasan detail peran gliserin dalam produk-produk khusus seperti produk perawatan kulit, rambut dan mulut serta sabun. Dan bab terakhir tentang alternatif-alternatif dari gliserin yang dapat dipakai dalam formulasi kosmetik. (T2)










