Berita Lintas
sawitbaik

Pengembangan Industri Kelapa Sawit Kedepan Didorong Libatkan Petani Sawit



Pengembangan Industri Kelapa Sawit Kedepan Didorong Libatkan Petani Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA – Industri perkebunan kelapa sawit telah berkembanga 110 tahun di Indonesia, namun demikian tidak dengan perkembangan Koperasi-koperasi petani kelapasawit yang nampak kurang didukung secara serius agar bisa mencapai kemandirian, serta membuat koperasi menjelma sebagai lembaga badan usaha yang bakal menjadi tumpuan masyarakat.

Selama ini masih banyak petani maupun secara kolektif melalui koperasi menjual Tandan Buah Segar (TBS) Sawit ke tengkulak, yang justru memangkas 30% harga TBS Sawit petani. Kondisi ini terjadi lantaran tidak terkoneksinya antara petani kelapa sawit swadaya dengan indusri pengolahan (pabrik kelapa sawit).

Diungkapkan, Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, kenyataan tersebut harus segera dievaluasi utamanya dari pemerintah, selain mendesak pemerintah agar pembangunan industri kelapa sawit nasional berbasis “gotong royong” yang bertumpu pada pemberdayaan petani sawit rakyat melalui koperasi sawit.

Lebih lanjut tutur Darto, tidak adanya roadmap sawit nasional yang jelas dan ditetapkan pemerintah mengakibatkan industri kelapa sawit nasional tidak didukung degan ekosistem yang saling mendukung, mislanya perusahaan perkebunan kelapa swasta tidak melakukan kemitraan dengan koperasi-koperasi petani. “Saat ini misalnya program industry biodiesel sawit yang di bangakan oleh pemrintah belum belum melibatkan petani sawit sebasai suplay bahan baku melalui kemitraan perusahan dan petani sawit swadaya,” katanya dalam diskusi online pada akhir Juni 2021  lalu.

Sebab itu Kata Darto, sudah waktunyalah pemerintah mendorong petani kelapa sawit untuk memiliki pabrik-pabrik pengelolan kelapa sawit kepemilikan bersama di koperasi. Selain diperlukan peran BUMN Sawit menjadi penopang dan bermitra secara langsung dengan koperasi-koperasi petani sawit.

Sementara Plt Kasubdit Hasil perkebunan Non Pangan Lainya kementerian Kemnerian perindustrian, Lila Harsyah Bahtiar mengatakan, Indonesai saat ini memiliki visi industry hilir sawit menjadi pusat produsesn dan konsumen produk turunan minyak sawit dunia, sehingga mampu menjadi price setter (penentu harga) CPO global. (T2)