InfoSAWIT, JAKARTA – Skim minyak sawit berkelanjutan Indonesian sustainable Palm Oil (ISPO) saat ini berlaku wajib bagi pelaku usaha, namun lima tahun kedepan skim ini akan menerapkan hal serupa kepada petani kelapa sawit di Indonesia.
Sayangnya hingga saat ini para petani kelapa sawit swadaya masih belum melakukan persiapan yang signifikan. Kendati untuk beberapa kabupaten sentra perkebunan kelapa sawit telah berinisiatif melakukan percepatan ISPO dengan membentuk Kelompok Kerja percepatan ISPO dan merancang regulasi pendukungnya. Namun melihat jumlah petani kelapa sawit swadaya yang mencapai 3 juta petani, maka kolaborasi untuk percepatan ISPO pada petani swadaya adalah suatu keharusan.
Sebab itu Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) yang pada tahun 2021, anggotanya mencapai 39 Organisasi terdiri dari 24 Koperasi 11 Asosiasi, 1 Gapoktan, 1 UD, 1 BUMDES dan 1 Kelompok Tani. Dimana total keseluruhan petani kelapa sawit swadaya yang terdaftar di FORTASBI mencapai 10.166 Petani sawit dengan luas lahan seluas 21.802 Ha, akan mengawal upaya yang diakukan pemerintah tersebut.
Terlebih Fortasbi adalah rumah bagi petani kelapa sawit swadaya untuk belajar tentang bagaimana mengimplementasikan nilai sustainability, dan belajar tentang bagaimana membangun jaringan, peningkatan kapasitas dan memperluas dampak sustainability dalam landscape lebih luas yaitu Desa dan Kecamatan.
Tutur Ketua Fortasbi, H Narno, forum yang didirikan tahun 2014 ini memiliki visi untuk mentrasformasikan nilai minyak sawit berkelanjutan melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian sustainable Palm Oil (ISPO) dan International Sustainability Carbon Certification (ISCC).
“Jika 6 tahun belakang, Fortasbi hanya fokus untuk memperluas jangkauan sertifikasi RSPO, maka 3 tahun kedepan, Fortasbi akan memasukkan percepatan ISPO pada petani swadaya sebagai program prioritas. Dengan tentu saja melakukan intergrasi dan kolaborasi dengan system sertifikasi lainnya,” kata H Narno, dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, Rabu (7/7/2021).
Senada dikatakan Pengelola Sekolah Petani Fortasbi, Rukaiyah Rafiq, dalam lima tahun kedepan, pihaknya akan membangun pendamping lokal dan pelatih lokal yang berasal dari petani sawit anggota kami, agar mereka dapat mengembangkan diri dan juga memiliki tanggung jawab untuk kembali menularkan nilai sustainability.
Tutur Rukaiyah, dalam identifikasi yang telah lakukan, dari 10.000 anggota petani sawit, terdapat 518 Pengurus ICS (Internal Control System) yang memiliki potensi cukup kuat dan memiliki pengelaman dalam sertifikasi RSPO dan ISPO.
“Sebab itu kami akan dorong dorong para pengurus ICS sebagai Pendamping Lokal dan Pelatih Lokal di wilayah mereka masing-masing. Bayangkan jika semua Pendamping Lokal itu memiliki dampingan 1 KUD atau Asosiasi dan Pelatih Lokal itu melatih 25 petani, maka dapat dibayangkan berapa petani yang dapat dijangkau dalam waktu 5 tahun,” tandas Rukaiyah yang kerap dipanggil Uki. (T2)







