InfoSAWIT, JAKARTA - Surga digambarkan sebagai tempat atau kondisi kebahagiaan hati. Jika melihat kondisi Indonesia yang dianugerahkan dengan iklim yang tepat dan potensi ketersediaan lahan, dapatkah kita menyebut Indonesia sebagai surga pengembangan perkebunan kelapa sawit di bumi?
Banyak peluang pembangunan industry perkebunan kelapa sawit dari sektor hulu hingga hilir. Pasalnya, sebagai eksportir minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi penting bagi ketersediaan CPO di dunia. Pentingnya keberadaan Indonesia, demi memenuhi kebutuhan akan minyak makan dan energy terbarukan yang ramah lingkungan.
Prestasi yang dicapai ini, merupakan bagian dari hasil ekspansi lahan dari 6,8 juta ha pada 2007 menjadi 16,38 juta ha pada tahun 2021. Ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit secara berkesinambungan, juga meningkatkan hasil produksi berbasis produktivitas yang meningkat berdasarkan praktik budidaya terbaik.
Evaluasi kinerja terbaik perkebunan kelapa sawit nasional, secara nyata berasal dari pengembangan tiga daerah seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Pulau-pulau ini memiliki potensi pengembangan dan kontribusi tersendiri bagi keberhasilan meningkatnya produksi CPO Indonesia.
Prospek di Kalimantan
Kalimantan memiliki pengembangan tercepat akan luas lahan perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2008 lalu saja, setidaknya terdapat 387 perusahaan yang telah membuka lahan perkebunan kelapa sawit dan berlanjut hingga dewasa ini.
Potensi Kalimantan, juga masih memiliki potensi besar untuk ekspansi lahan berdasarkan ketersediaan lahan. Namun, secara bersamaan memiliki kendala yang harus diperhatikan. Seperti permasalahan infrastruktur, ketersediaan benih unggul, fasilitas pelabuhan, tata ruang wilayah dan provinsi (RTRWP), masalah konversi hutan, tumpang tindih ijin kegunaan lahan dan sengketa lahan.
Prospek di Sulawesi
Sulawesi merupakan daerah yang memiliki prospek bagus untuk ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit. Pasalnya, budidaya kelapa sawit masih didominasi petani kecil dengan kepemilikan lahan sebesar 96.474 ha di tahun 2008. Setidaknya masih terdapat lahan yang memiliki prospek besar seluas 362.301 ha dan sedikitnya 214.102 ha dengan prospek menengah.
Ada sejumlah kendala yang dihadapi yaitu meliputi kondisi infrastruktur. Pasalnya, ekspor CPO hanya dikirim melalui pelabuhan Belawan, Sumatera Utara dan pelabuhan Dumai, Riau. Meskipun pelabuhan yang terdapat di Sulawesi masih dalam kapasitas kecil, ada beberapa pelabuhan khusus yang dimiliki perusahaan perkebunan sendiri sebagai output produksi CPO yang dihasilkan, sehingga lebih mudah dikirim langsung melalui jalur air untuk pasar domestik dan pelabuhan ekspor yang berada di daerah lain, seperti Sumatera utara dan Riau.
Prospek di Papua
Papua sebagai daerah paling timur Indonesia, memiliki prospek dan potensi yang paling menjanjikan. Pasalnya, ketersediaan lahan masih cukup luas untuk dikelola sebagai perkebunan kelapa sawit.
Kendati terdapat beberapa kendala seperti kurangnya infrastruktur, perencanaan tata ruang wilayah dan provinsi (RTRWP) dan ketidakpastian hukum seperti di daerah lain, terdapat juga persoalan ketersediaan tenaga kerja, pendidikan dan penerapan teknologi. (Penulis: Edi Suhardi/Praktisi Perkebunan kelapa Sawit).
Sumber InfoSAWIT Edisi Desember 2012
Baca di: https://store.infosawit.com/
Untuk Bahasa Inggris buka link:







