InfoSAWIT, JAKARTA - Saya ingin secara khusus membahas petani dan Orangutan karena beberapa kali saya mendengar kabar di media tentang petani sawit yang disalahkan atas kematian atau disiksanya Orangutan. Saya sendiri sempat menghabiskan waktu sekitar 2 tahun saat kecil, mengamati awal pembukaan kebun sawit orangtua. Saya bersaksi tak pernah melihat Orangutan.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau menyebutkan populasi Orangutan di Pulau Sumatera sekitar 6,600 ekor. Tapi jika sesekali bermain di kebun sawit, yang banyak saya dengar adalah suara kera atau siamang, yang berpotensi lebih bersahabat dengan petani. Kadang jika berhasil dijinakkan, primata jenis beruk bisa menjadi mitra pemetik kelapa.
Ini bukti bahwa hewan-hewan di sela-sela perkebunan sawit atau karet sesungguhnya bisa berdampingan dengan manusia pengelolanya. Seingat saya mereka bukan mengincar sawit, tapi buah-buahan lain yang terasa manis.
Saya tidak pernah mendengar di wilayah sekitar kami ada Orangutan yang dilukai, disiksa, atau bahkan dibunuh seperti yang ramai diberitakan. Tidak segampang itu juga menaklukkan Orangutan karena mereka jauh lebih cerdas dari kera. Badannya juga lebih besar dan tangannya kuat, sehingga kalau mengamuk bisa balik membunuh penyerangnya. Sama saja bahayanya dengan gajah atau babi hutan. Saat terlihat pun petani jarang yang mau mengganggu.
Petikan artikel diatas adalah karya tulisan Hariadhi seorang anak petani kelapa sawit. Sejatinya pembaca juga bisa menjadi penulis terutama bagi pembaca yang ada di sekitar perkebunan kelapa sawit atau komunitas, kelompok atau individu petani sawit yang selalu berkaitan dengan kegiatan perkebunan kelapa sawit.
Upaya penberaluasan informasi fakta ini digarap negara-negera produsen minyak kelapa sawit di dunia yang tergabung dalam Dewan Negara – Negara Produsen Minyak Sawit / Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Lembaga ini sedang menggelar kompetisi menulis cerita pendek dengan tema “Petani dan Perkebunan Sawit”.
Sudah saatnya kontribusi besar petani kecil terhadap industri sawit diakui dalam upaya memenuhi hal terpenting dari tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yaitu, produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Melalui kompetisi ini, CPOPC berharap dapat menyuarakan pentingnya membangun aliansi global petani sawit di kalangan negara-negara produsen minyak sawit dimana pertukaran informasi dan kolaborasi terus dilakukan.
Dari informasi diterima InfoSAWIT, Kompetisi ini juga akan membuat masyarakat menghargai peran penting petani kecil dalam produksi minyak nabati yang terjangkau untuk pangan dan energi.
Pemenang pertama kompetisi akan mendapatkan uang tunai U$$1000 (sekitar Rp 14 juta) dan kesempatan untuk menyampaikan kisah nyata mereka mengenai usaha-usaha petani dalam mengelola kebunnya, atau hal lain yang berhubungan dengan petani sawit serta upaya mencapai kehidupan yang layak dan lingkungan berkelanjutan. Total nilai hadiah uang tunai yang CPOPC akan berikan kepada para pemenang adalah US$ 7.950 (Rp 111 juta).
Cerita peserta yang dikirimkan harus berjumlah 500 - 750 kata dalam pilihan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Malaysia, Spanyol dan Prancis. Kategori lomba sebagai berikut:
1. Pekerja Layak, Pendidikan, dan Komunitas Berkelanjutan.
2. Pengentasan Kemiskinan, Mengakhiri Kelaparan, Kesehatan dan Pertumbuhan Ekonomi.
3. Penanggulangan Perubahan Iklim, Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati.
Seluruh cerita pemenang akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Batas waktu pengiriman naskah 15 September 2021. Semua naskah dikirim secara elektronik ke alamat: cpopcstorycompetition@cpcopc.org.
Info lebih lanjut mengenai lomba silahkan kunjungi: https://www.cpopc.org/events/







