InfoSAWIT, JAKARTA – Diungkapkan Ketua Umum Asosasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, secara umum kendala sektor sawit ada dua yang mesti segera diselesaikan para pemangku kepentingan, yakni pertama mengenai ketersediaan data perkebunan kelapa sawit petani, lantaran pengembangan petenai kelapa sawit akan sulit dilakukan bila tidak ada ketersediaan data yang sahih.
“Ibarat kita mau perang kita menembak senapan entah menembakan peluru itu kearah yang mana,” kata Gulat dalam acara FGD Sawit Berkelanjutan Vol 9, bertajuk “PERAN BPDP-KS DALAM MEMPERKUAT KEMITRAAN PEKEBUN KELAPA SAWIT INDONESIA,” Kamis, 29 Juli 2021, yang diadakan media InfoSAWIT.
Lantas Kedua, menyangkut masalah harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Apalagi petani sawit untuk lima tahun kedepan akan diwajibkan mengikuti sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kata Gulat, sertifikasi ISPO sama saja ibaratnya dengan biaya produksi.
“Bagaimana mungkin bila kami harus ISPO tetapi harga TBS sawit kami tetap tidak ada perubahan, bahkan masih banyak potongan misalnya kita jual 1.000 Kg tetapi yang dibayar hanya 850 Kg, atau ada potongan sampai 15%,” katanya.
Lebih lanjut merujuk hitungan Gulat, diperkirakan pabrik kelapa sawit bisa untung sekitar Rp 7 miliar sampai Rp 11 miliar per bulan, dengan kapasitas 45 ton TBS/jam. Semestinya, kata dia, pendapatan itu sudah cukup untuk bayar gaji karyawan pabrik dan kegiatan pabrik lainnya, tidak mesti cari untung dari cara yang lain.
“Sebab itu ini yang harus segera ditertibkan, kalau ini terus dibiarkan maka aka menjadi titik hancurnya industri kelapa sawit. Sebab itu masa depan petani kelapa sawit bukan pada budidaya bukan dimasalah kawasan hutan yang harus clean and clear oleh UU Cipta Kerja, tetapi adalah adanya kecurangan ditingkat pabrik, harga TBS naik potogan juga naik ini sudah tidak bagus. Kita harus tertib,” katanya.
Tutur Gulat, dari anggotanya yang tersebar di 122 kabupaten/kota masalah penentuan harga ditingkat pabrik bisa termasuk dalam pelanggaran serius, seperti kasus di Aceh yang ribut lantaran harga TBS sawit yang tidak sesuai. “Kami akui sekitar 60% petani sawit masih menjual buah sawit ke pengepul atau RAM, dan ini juga masih bersentuhan dengan pabrik,” tandas dia. (T2)







