InfoSAWIT, JAKARTA - Sudah selayaknya pemerintah maupun seluruh stakeholder industri kelapa sawit nasional mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Apalagi, dari riset dan kajian ilmiah yang dilakukan Prof Dr. Ir Yanto Santosa dari Dept. Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, ternyata tidak ada hubungan linear antara deforestasi dengan perluasan kebun sawit. Penggunaan lahan sebagai sumber daya alam pun, menurutnya, tidak hanya monopoli pengembangan kebun sawit. Pemanfaatan hutan, misalnya ini juga berlaku hampir di semua komoditas, semua sektor dan semua negara di dunia.
“Karena itu, kebijakan RED II – ILUC EU yang mengaitkan isu deforestasi secara berlebihan dan spesifik pada komoditas biofuel khususnya sawit dalam perdagangan internasional dapat dikategorikan sebagai praktik crop apartheid atau perilaku diskriminatif,” kata Prof Yanto, dalam webinar “The fact of Indonesian Deforestation’s Rate” yang dihadiri InfoSAWIT.
Negara-negara Uni Eropa seharusnya malah berkaca pada Indonesia. Berdasarkan global resources assestment (FAO 2016), tidak satu pun negara-negara Uni Eropa yang termasuk top ten negara yang memiliki hutan primer terluas untuk konservasi biodiversity dunia dan hutan proteksi terluas dunia. “Indonesia masih termasuk top ten negara yang memiliki hutan primer terluas untuk konservasi biodiversity dunia dan hutan proteksi terluas dunia,” kata Prof Yanto. (T2)







