Berita Lintas
sawitbaik

Jangan Sekali-kali Benci Sawit, Prof Purwiyatno: 50% Produk Supermarket dari Palm Oil



Senior Scientist Southeast Asian Food & Agricultural Science & Technology (SEAFAST) Center, IPB University
Jangan Sekali-kali Benci Sawit, Prof Purwiyatno: 50% Produk Supermarket dari Palm Oil

InfoSAWIT, JAKARTA - Mungkin banyak yang tidak sadar, banyak sekali produk sehari-hari yang berbahan baku minyak kelapa sawit. Mulai dari bahan pangan, kosmetik hingga bahan bakar. Jadi, sangat aneh kalau ada yang membenci kelapa sawit.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Purwiyatno Hariyadi mengatakan, lebih dari 50% produk yang dijual di supermarket hingga ritel kecil, mengandung minyak sawit. Artinya, ketergantungan masyarakat terhadap minyak sawit, cukup tinggi.

Demikian makalah yang disampaikan Senior Scientist Southeast Asian Food & Agricultural Science & Technology (SEAFAST) Center, IPB University dalam webinar 'Akselerasi Pengembangan Industri Kelapa Sawit untuk Mendukung Ekonomi Berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Barat', Kamis (16/9/2021).

Prof Purwiyatno menjelaskan, ketergantungan dunia terhadap minyak sawit, tidak bisa dipungkiri. Karena itu tadi, minyak sawit adalah bahan baku dari banyak produk dunia. "Sebesar 68 produk pangan dunia menggunakan minyak sawit. Mulai margarin, produk konfeksioneri, cokelat, pizza, roti, minyak goreng dan masih banyak lagi," papar Prof Purwiyatno.

Selanjutnya, lanjut Prof Purwiyatno, sebesar 27% persen minyak sawit digunakan dalam pembuatan produk konsumen lainnya. Mulai dari sabun, deterjen, pasta gigi, kosmetik dan alat pembersih. "Sedangkan untuk bahan bakar yakni biodiesel sebesar 5 persen," ungkapnya.

Di Indonesia, kata dia, penggunaan minyak sawit sepanjang 2017 hingga Juli 2021 terus menanjak. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), pada 2017, produk minyak sawit digunakan untuk biodiesel sebesar 20,1%; oleokimia 6,2%; pangan 73,7%.

Sedangkan pada 2018, minyak sawit yang digunakan untuk biodiesel 28,3%; oleokimia 7,1%; pangan 64,5%. Pada 2019, biodiesel 34,8%; oleokimia 6,3%; pangan 58,9%. Pada 2020, biodiesel 41,7%; oleokimia 9,8%; pangan 48,6%. Sedangkan hingga Juli 2021, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel sebesar 37,4%; oleokimia 11,3% dan pangan 51,3%.

Untungnya, kata dia, Indonesia dikaruniahi kekayaan alam berupa kebun kelapa sawit nan luas. Saat ini, Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Di mana, Kalbar adalah salah satu pusat industrinya.

Artinya, lanjut Prof Purwiyatno, Kalbar berpeluang untuk berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan gizi nasional, serta dunia. Dan, minyak sawit secara alami tidak mengandung asam lemak trans untuk produk pangan dan memiliki keseimbangan antara komponen saturated fats dan unsaturated fats. Dan, minyak sawit juga memiliki keunggulan lain berupa kandungan fitonutrien yang sangat tingi seperti beta karoten dan tocopherol.

Suka atau tidak, industri sawit di tanah air merupakan aset nasional. Untuk itu diperlukan adanya suatu konsensus (referensi) nasional menyangkut aspek keamanan pangan, gizi/kesehatan dan keberlanjutan minyak sawit. "Tentunya dengan melibatkan para pakar pangan, gizi, medis/kesehatan, toksikologi, keberlanjutan dan pertanian. Untuk merumuskan posisi ilmiah tentang status minyak sawit (Palm oil/PO) sebagai bahan pangan dan kesehatan, serta keberlanjutannya," pungkasnya. (T3)