Berita Lintas
sawitbaik

Tofan: Lawan Kampanye Hitam Sawit, Belajarlah dari Malaysia



Tofan: Lawan Kampanye Hitam Sawit, Belajarlah dari Malaysia

InfoSAWIT, JAKARTA - Ini tidak bisa dibantah, perekonomian Indonesia saat ini, sangat bergantung industri sawit. Tahun lalu, devisa dari ekspor si bulat berkerut ini, tembus US$22,9 miliar. Setara Rp320 triliun atau 12-13% total APBN. Namun, bisnis ini terus dirongrong kampanye hitam dari sejumlah negara.

Namun, bukan berarti bisnis sawit yang menjadi primadona Indonesia ini, berjalan mulus. Bak kontestasi politik saja, kampanye hitam alias 'perundungan' harus dialami minyak sawit. Biang keroknya siapa lagi kalau bukan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Di balik semua ini, jelaslah ada kepentingan bisnis.

Dalam acara Ngobrol Sawit Bareng Milenial (Ngobras) Bertajuk Peranan Komunikasi Massa Sawit di Era Pandemi COVID-19 yang digelar InfoSAWIT, Jumat (17/9/2021), Ketua bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi bicara panjang lebar soal tantangan yang harus dihadapi industri sawit nasional.

Kata Tofan, kontribusi industri sawit nasional terhadap perekonomian nasional, sudah tidak adalagi perdebatan. Tahun lalu, devisa dari ekspor minyak sawit mencapai US$22,9 miliar. Atau setara 12-13% dari total APBN yang nilainya mencapai Rp2 ribuan triliun.

Berkat minyak sawit, lanjut mantan wartawan senior Jawa pos ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat pandemi COVID-19, tidak jeblok-jeblok amat. Minus 2,07% dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2019. Jauh lebih oke ketimbang Singapura yang minus 5,4%.

Bayangkan bila Indonesia tak punya kebun sawit, perekonomiannya bakal lebih nyungsep. Dan, masalah pengangguran semakin tak teratasi. Saat ini, industri sawit dari hulu hingga hilir, sedikitnya menyerap 14,6 juta pekerja.

"Oh iya, ada yang lupa. Sebelum pandemi, penerimaan negara menggantungkan kepada tiga sektor, yakni, minyak dan gas bumi (migas), pariwisata dan sawit. Namun saat pandemi, semuanya buyar. Harga minyak dunia babak belur. Sektor pariwisata tumbang lantaran tak ada turis datang. Tapi, untung Indonesia masih punya sawit," katanya.  

Jadi, betul kata pria kelahiran Pasuruan, Jawa Timur ini. Bahwa, kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional, sudah tidak bisa diperdebatkan lagi. Namun, ada masalah yang lebih menantang. Ya itu tadi, kampanye hitam terhadap sawit yang selalu ditenteng Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Bagaimana mengatasinya? "Contohlah Malaysia. Seluruh stake holder sawit di Malaysia begitu kompaknya. Bahwa sawit sebagai komoditas strategis perlu dilindungi," ungkap penulis Buku Pena di Atas Langit ini.

Ada harapan, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sangat mendukung berkembangnya industri sawit dalam negeri. Termasuk membuka pasar dalam negeri dengan menerbitkan mandatory biodiesel 30%. "Saya baca ada anggota DPR yang mengusulkan RUU komoditas stretgis yang perlu dilindungi. Kabar baiknya, kelapa sawit masuk," ungkapnya.

Setelah dalam negeri sepakat mendukung sawit, lanjut Tofan, kampanye ke luar negeri mulai dijalankan. Singapura layak disasar. Meski negeri ini cuman 'seuprit', namun suaranya merupakan cerminan Uni Eropa dan AS.

Gencarnya Uni Eropa maupun AS mengganggu sawit, kata Tofan, lantaran kepentingan bisnis. Selama ini, kalangan industri dunia lebih sreg menggunakan minyak nabati dari sawit ketimbang non sawit. Karena dari sisi ekonomi minyak sawit lebih menguntungkan mereka. "Ada industri cokelat besar di Amerika, produknya mudah kita jumpai di Indonesia, lebih suka menggunakan minyak nabati dari sawit. Ternyata, minyak sawit membuat cokelat lebih tahan. Hanya lumer pas di mulut saja. Ketika dikantongi enggak mleber (lumer). Itu alasan mereka," paparnya.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Angkanya mencapai 52juta ton. Mengalahkan Malaysia yang hanya 20 juta ton. Dan, 70% produk minyak sawit untuk ekspor.

Dari berbagai jenis minyak nabati, sawit tetap yang paling unggul. Dari sisi produktivitas, misalnya, 1 hektar kebuh hasil bisa hasilkan 6 ton. Sementara untuk menghasilkan 1 ton bunga matahari atau bahan baku minyak nabati non sawit lainnya, perlu lahan 5-6 hektar. Artinya, sawit 10 kali lebih produktif. sawit lebih produktif sampai 10 kali lipat.  

Ke depan, Tofan mengaku masih optimis bisnis sawit di Indonesia bakal semakin lari kencang. Meski terus jadi sasaran tembak isu lingkungan, pekerja, karhutla, industri sawit bakalan tetap hidup. Karena, semakin banyak industri yang membutuhkan. Bisnis adalah bisnis. Meski kampanye hitam menyalak keras, bisnis sawit tetap melaju. (T3)