JAKARTA – Indonesia yang saat ini tercatat sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia membutuhkan sumber daya manusia (SDM) memadai yakni sekitar 7 juta orang untuk di kebun sawit.
“Per hektare, tenaga kerja di kebun sawit kira-kira 0,4 orang atau KK, jadi kalau kita punya 10 juta hektare sekarang ini sekitar 4 juta KK, itu yang langsung. Sementara yang tidak langsung itu kira-kira 0,3. Jadi kalau diliat itu sekitar 7-8 juta,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, kepada InfoSAWIT, Rabu (21/1/2015).
Lebih lanjut ia menjelaskan, jumlah tenaga kerja itu baru hanya di kebun belum di hilirnya. Untuk dihilir sendiri, Sahat menekankan, perusahaan harus memiliki pegawai-pegawai yang berdedikasinya kepada industri kelapa sawit. Meskiupun di hulu juga seharusnya memiliki kemampuan yang baik.
Karena selama ini, ia melihat, salah satu kendala yang menghambat perkembangan industri kelapa sawit ialah tenaga kerjanya tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap sawit itu sendiri. “ Kebanyakan pekerja yang ada disawit itu tidak bersekolah (mengenyam pendidikan khusus :red), mereka belajar dilapangan,” ujarnya.
Sementara berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Desember 2014 lalu, perkebunan kelapa sawit per hektar dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp9,7 juta/hektar/ tahun dengan nilai produksi mencapai Rp17 juta/hektar/tahun atau rasio 57,05%.(T3)







