InfoSAWIT, JAKARTA - Diungkapkan RGE Palm Business Director, Bernard Riedo, komposisi ekspor minyak sawit Indonesia telah didominasi produk hilir apakah itu RBD olein atau produk untuk oleokimia. Kata dia capaian saat ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam menggenjot industri hilir melalui kebijakan tariff ekspor, ditambah dengan adanya dukungan dari Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun 2015 lalu.
“Volume kebutuhan CPO beberapa tahun terakhir mulai menurun karena volume ekspor sudah didominasi turunan minyak sawit baik itu RBD olein atau oleokimia serta lainnya, karena hanya dengan satu atau dua langkah proses produk turunan minyak sawit itu sudah bisa dikonsumsi di luar negeri,” katanya kepada InfoSAWIT, Rabu (10/11/2021).
Lebih lanjut tutur Bernard, untuk pengembangan biodiesel sawit tidak akan mengganggu antara kebutuhan pangan atau untuk energi, selama produksi minyak sawit bisa ditingkatkan sehingga bisa memenuhi untuk kedua kebutuhan tersebut.
Sementara untuk pengembangan sektor biodiesel sawit di dalam negeri tergantung dari arah kebijakan pemrintah, yang saat ini kebijakan itu akan ditingkatakn dari campuran FAME 30% ke minyak solar atau tren disebut B30 ke campuran 40% atau B40.
Hanya saja kata Bernard, untuk menaikan campuran tersebut dibutuhka uji coba dan persiapan yang matang guna menghindari terjadinya kendala di lapangan. Diakui Bernard, market biodiesel sawit di Indonesia tidak akan bertambah, sekitar di angka 9-10 juta Kl, kecuali ada lonjakan populasi yang sangat tinggi. “Untuk peningkatan serapan bisa dilakukan dengan penggunaan biodiesel berbasis FAME atau penggunaan untuk green diesel,” tandas dia. (T1)







