InfoSAWIT, JAKARTA – Diungkapkan sekretaris Jenderal Kementerian Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Datuk Ravi Muthayah,memperkirakan harga minyak sawit mentah (CPO) cenderung turun karena lebih banyak negara produsen kelapa sawit memiliki hasil produksi yang maksimal.
Lebih lanjut kata dia, dengan adanya ekspor bakal membuka pasar, pihaknya percaya bahwa harga CPO akan sedikit melemah. “Reli harga CPO yang terjadi semenjak Juni 2020 didorong oleh gangguan pasokan minyak nabati utama, serta adanya kendala logistik di daerah penghasil minyak sawit, hasilnya minyak sawit mentah telah diperdagangkan sekitar US$ 1.230 (sekitar RM 5.160) per ton,” katanya saat memberikan sambutan pada webinar “Opportunities and Challenges for Palm Oil Producer Countries (OCOPOP)” yang diselenggarakan Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC), yang diikuti InfoSAWIT, Selasa (23/11/2021).
Ravi Muthayah mencatat, seperti yang telah terlihat pada 15 Oktoberlalu, kejadian ini merupakan harga CPO bersejarah bagi industri kelapa sawit, sebab itu dia berharap, negara-negara produsen, termasuk Malaysia, mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan harga CPO yang adil, serta siap menghadapi segala tantangan, terutama dari pasar yang memiliki sentimen negatif terhadap minyak sawit.
“Rangkaian narasi negatif terhadap kelapa sawit adalah isu yang tidak ada habisnya; kita telah melihatnya dimulai dengan laporan yang mengklaim bahwa minyak sawit mengandung lemak jenuh yang berkontribusi terhadap penyakit jantung koroner,” katanya.
Lanjut Ravi, melihat arahan energi terbarukan juga telah mengkategorikan kelapa sawit sebagai indirect land use change (ILUC) dan akan menghapuskan biofuel berbasis minyak sawit secara bertahap pada 2030, dan kelapa sawit adalah satu-satunya target untuk ILUC tinggi, lantaran minyak kedelai telah dikeluarkan dari daftar tersebut.
Banyak negara, terutama negara-negara anggota Uni Eropa (UE), telah mulai mengubah Arahan Energi Terbarukan Uni Eropa II (EU RED II) ke dalam undang-undang setempat mereka, secara tidak langsung melarang atau lebih tepatnya menempatkan biodiesel berbasis minyak sawit pada posisi yang kurang menguntungkan.
Selain itu, dia mengatakan minyak sawit sering dikaitkan dengan masalah keamanan dan kesehatan pangan, seperti mengandung 3-monochloropropane diol (3-MCPD) yang tinggi dan baru-baru ini muncul isu kandungan minyak hidrokarbon mineral di beberapa produk.
“Ini adalah beberapa tantangan yang ditimbulkan oleh industri dan sangat penting bagi kami untuk kontra-narasi klaim dengan fakta berbasis bukti untuk memastikan industri minyak sawit yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Deputi II (Pangan dan Agribisnis), Kemenko, Musdhalifah Machmud mengatakan, Indonesia telah merancang peta jalan pengembangan industri hilir kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung kegiatan industri, menciptakan ekosistem, menerapkan tata kelola yang baik, meningkatkan capacity building dan mengembangkan teknologi untuk mendongkrak bisnis minyak sawit.
“Langkah tersebut tidak hanya tentang terkait permintaan dan pasokan tetapi juga kontrol yang lebih besar dari seluruh rantai pasokan industri. Agar itu terjadi di Indonesia, harus menciptakan ekosistem yang kondusif, termasuk lebih banyak investasi di industri hilir minyak sawit, ”katanya.
Sambutan pembukaannya dibacakan oleh Moch Edy Yusuf, Asisten Deputi Bidang Perkebunan, Pengembangan Agrobisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia. (T2)







