Berita Lintas
sawitbaik

Negara Produsen Minyak Sawit Sepakat Lawan Kampanye Hitam dan Diskriminasi



Negara Produsen Minyak Sawit Sepakat Lawan Kampanye Hitam dan Diskriminasi

InfoSAWIT, JAKARTA – Untuk yang kesembilan kalinya negara-negara produsen minyak sawit global mengadakan pertemuan tingkat menteri, yang kali ini dilakukan di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko), Airlangga Hartarto mengungkapkan, peran penting sektor perkebunan kelapa sawit dalam mendukung dan mempercepat pemulihan ekonomi di tengah pandemi.

Pada tahun 2021, nilai ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai US$ 29 miliar, meningkat 155% dibandingkan tahun sebelumnya. Kata Airlangga, saat ini sektor perkebunan kelapa  sawit khususnya di Indonesia telah berupaya mengikuti tren global dalam penerapan praktik kelapa sawit berkelanjutan, “Indonesia dalam proses finalisasi sertifikasi rantai pasokan minyak sawit hilir,” katanya dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, Sabtu (4/12/2021).

Namun diakui Airlangga Hartarto, tren kebijakan diskriminatif terhadap industri minyak sawit masih saja berkembang, bahkan tudingan negatif tersebut terus muncul. Sebab itu, kata Menko, sangat penting bagi CPOPC untuk mempertahankan peran pentingnya dalam mendukung dan menjaga kepentingan bersama para anggotanya di sektor kelapa sawit.

Sementara dikatakan Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Zuraida Kamaruddin, sentimen kampanye anti minyak sawit yang dari waktu ke waktu kerap menjadi perhatian oleh berbagai pihak. Kendati, secara fakta kelapa sawit adalah tanaman yang jauh lebih efisien dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya.

“Propaganda melawan minyak sawit telah menjadi lebih serius dan itu adalah sesuatu yang perlu dilawan oleh CPOPC dengan cara yang lebih efektif. Membongkar mitos seputar kelapa sawit secara umum harus distrategikan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini seperti di era cyber, berita menyebar dengan cepat,” katanya.

Lebih lajut tutur Datuk Zuraida Kamaruddin, menekankan bahwa peran CPOPC adalah sebagai badan yang mendorong keterlibatan dalam pengembangan industri minyak sawit berkelanjutan secara global.

CPOPC juga memiliki peran besar dalam membantu jutaan petani kelapa sawit dan pemangku kepentingan. Upaya-upaya ini akan membantu memastikan bahwa industri kelapa sawit berkomitmen penuh terhadap keberlanjutan dan menerapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB sejalan dengan tuntutan global.

Terlebih, kedua negara produsen minyak sawit pendiri CPOPC telah menandatangani kesepakatan. “Harapannya kesepakatan tersebut bisa memfasilitasi penerimaan anggota baru serta negara-negara pengamat ke dalam keanggotaan CPOPC dalam waktu dekat,” tandas Zuraida Kamaruddin.

Pertemuan Tingkat Menteri ke-9 Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC), dihadiri secara virtual oleh Wakil Menteri Pertanian Kolombia, Juan Gonzalo Botero Botero; Menteri Pertanian dan Peternakan Papua Nugini, John Simon, MP; Wakil Menteri Pertanian dan Peternakan Honduras, David Ernesto Wainwright; dan Akua Sekyia Ahenkora, Komisaris Tinggi Ghana untuk Malaysia dalam kapasitasnya sebagai negara pengamat. (T2)