InfoSAWIT, NEW DELHI - India tercatat sebagai konsumen minyak nabati terbesar di dunia. Pada periode 2016/2017, total konsumsi domestik minyak sawit India mencapai 9,3 juta ton dimana sebanyak 98,97% di antaranya diimpor dari Malaysia dan Indonesia. Dengan demikian India hanya memproduksi minyak sawit sekitar 1,027% dari total kebutuhan minyak sawit nya.
Menariknya, UE dan China masing-masing hanya menggunakan 46% dan 58% minyak kelapa sawit mereka dalam produksi terkait makanan, sementara sisanya digunakan untuk produk kosmetik, oleokimia, dan farmasi. Sementara di India, 94,1% minyak sawit digunakan dalam produk makanan, terutama untuk keperluan memasak. Hal ini membuat minyak sawit sangat penting bagi ekonomi minyak nabati India.
Guna menekan harga minyak goreng sawit yang mendorong inflasi, pemerintah pusat India pada 29 Juni 2021 lalu telah memotong bea masuk dasar minyak sawit mentah (CPO) menjadi 10% dari sebelumnya 15% selama tiga bulan untuk meningkatkan impor. Dengan tambahan cess untuk pertanian sebesar 17,5% dan 10% untuk kesejahteraan sosial, pemotongan tersebut telah menurunkan tarif pajak CPO menjadi 30,25% dari sebelumnya 35,75%.
Impor minyak sawit India hampir mencapai 60% dari total impor minyak nabati. Pada 2020 lalu, impor minyak sawit India turun menjadi 7,2 juta ton dari 9,4 juta ton pada 2019 akibat pandemi Covid-19.
Dilansir Indiatoday, melalui kebijakan menurunkan tarif yang dilakukan pemerintah India telah berdampak pada menurunnya harga minyak sawit pada Juni 2021 di pasar domestik. Ini dilakukan juga lantaran harga minyak sawit dunia terus naik dari US$ 527,50/ton pada 5 Mei 2020, dan menjadi US$ 971/ton pada 29 Juni 2021 di pasar internasional. Kenaikan tajam ini menyebabkan kenaikan harga minyak nabati di India. (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi September 2021







