Berita Lintas
sawitbaik

Odong-odong Pelangsir Buah Sawit, Bisa jadi Pilihan Ekonomis di Areal Rawa



Odong-odong Pelangsir Buah Sawit, Bisa jadi Pilihan Ekonomis di Areal Rawa

InfoSAWIT, JAKARTA - Sebagai urat nadi penghubung, infrastruktur jalan merupakan salah satu faktor penting yang harus dipelihara dengan baik dalam pengelolaan di perkebunan kelapa sawit. Kualitas jalan yang baik bisa berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas operasional kebun. Disamping itu, terpeliharanya kualitas jalan akan mampu menekan biaya operasional dari pengelolaan kebun sawit itu sendiri.

Setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit sejatinya memiliki kebijakan yang berbeda terhadap kuantitas dan pengelolaan jalan, khususnya bagi perusahaan yang memiliki perkebunan sawit di areal rawa. Beberapa perusahaan mengharuskan semua jalan ditimbun, sehingga seminimal mungkin terjadi langsir.

Beberapa perusahaan cukup mewajibkan melakukan pengerasan jalan pada jalan utama saja. Sisanya, pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) sawit  pada jalan yang tidak dipekeras menggunakan alat berat atau moda transportasi lainnya. Cara demikian tergantung kebijakan perusahaan lantaran mempengaruhi biaya yang nantinya akan dikeluarkan.

Nasir Riyadi, selaku Head of FFB Trading di PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk., memiliki inovasi dengan menciptakan alat yang disebut sebagai “Odong-Odong Pelangsir” untuk perkebunan kelapa sawit di areal rawa.

Ia mengaku, inovasi yang dibuatnya terinspirasi ketika hari akhir pekan sedang bersama dengan keluarga dan anaknya sedang bermain kereta-keretaan yang memiliki jalur rel untuk melintas. Nasir pun terinspirasi untuk membuat hal serupa dalam pelangsir Tandan Buah Segar (TBS) sawit. “Berdasarkan pengalaman tersebut kami konsisten melakukan riset saat melakukan pekerjaan di lapangan,” katanya.

Menurut dia, alat ini merupakan inovasi yang cukup penting bagi perkebunan kelapa sawit. Terlebih bagi perusahaan yang areal kebunnya berada di areal tanah berawa. Bahkan, Nasir menemukan beberapa fakta, yakni apabila melakukan perbaikan jalan di areal rawa dengan pengerasan maka akan menimbulkan biaya yang tinggi. Belum lagi stok tanah dari galian c yang mulai sedikit dan penggunaan truk-truk bermuatan yang melintasi jalan tersebut, akibatnya jalan menjadi ambles, serta adanya potensi cuaca yang tidak menentu, terlebih ketika musim penghujan tiba yang bisa mengakibatkan tanah kembali hancur.

Ternyata dijelaskan Nasir, mekanisme alat ini cukup sederhana, yaitu dengan cara membuat jalur kereta menggunakan rel di jalan produksi yang sebelumnya telah diberi alas dengan kayu yang tersusun. Untuk penampungan TBS sawit sendiri menggunakan drum bekas yang dibelah menjadi dua menyerupai bak terbuka. “Sedangkan mesin menggunakan penggerak dari motor,” katanya.

Guna memaksimalkan hasil inovasinya, Nasir terus melakukan perbaikan dalam pengembangan alat transportasi ini. Ia berharap, inovasinya dapat digunakan bukan hanya untuk pelangsir TBS sawit, namun bisa digunakan untuk langsir pupuk dan lebih bermanfaat nyata bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit serta pekebun sawit swadaya pada khususnya. (T2)