InfoSAWIT, KUALA LUMPUR - Kementerian Perkebunan dan Komoditas Malaysia melaporkan, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk produksi biodiesel berbasis sawit generasi kedua dan bahan bakar biojet di Pengerang Maritime Industrial Park (PMIP) di Johor.
Kerjasama itu, MPOB bakal bermitra dengan Pengerang Maritime Industries Sdn Bhd, Shanxi Construction Investment Group Co Ltd (SCIG) dan Chinese Academy of Sciences' Institute of Coal Chemistry untuk memproduksi biodiesel dan bahan bakar biojet berbasis minyak sawit di Malaysia.
Harapannya kerjasama bilateral ini bia mempererat hubungan kedua negara, terlebih China termasuk negara pengimpor minyak sawit terbesar Malaysia," catat Kementerian Perkebunan dan Komoditas Malaysia dalam keterangan tertulisnya.
Pihak Kementerian Perkebunan dan Komoditas Mayalsia mengatakan, kolaborasi tersebut bisa mendorong produk sawit bersertifikat Malaysia Sustainable Palm Oil (MSPO) di China, sebagai bahan baku untuk produksi biofuel yang akan meningkatkan pengakuan MSPO di pasar global.
“Investasi ini dapat dilihat sebagai komitmen antara Malaysia dan China dalam mengeksplorasi teknologi canggih baru yang melibatkan produk minyak sawit sesuai komitmen dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26), dalam upaya mengurangi emisi karbon (terhadap PDB) sebesar 45% pada tahun 2030 untuk Malaysia, dan komitmen Karbon untuk China yang menargetkan netral karbon pada tahun 2060," catat Kementerian.
Dalam kerjasama tersebut akan dilakukan oleh SCIG adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sepenuhnya dimiliki dan dioperasikan oleh Pemerintah Rakyat Provinsi Shanxi di Tiongkok. Perusahaan milik pemerintah China ini berencana berinvestasi di pabrik minyak nabati terhidrogenasi (HVO) di Malaysia.
HVO juga dikenal sebagai biofuel generasi kedua di mana minyak sawit dipecah dan dihidrogenasi menjadi bahan bakar hidrokarbon. Proyek pengembangan untuk setiap pabrik HVO diharapkan membawa investasi asing langsung senilai RM 3 miliar dengan penciptaan lapangan kerja sekitar 800 pekerja untuk Malaysia.
Proyek ini menyediakan platform bagi kedua negara untuk lebih memperkuat kerjasama teknis dalam memproduksi biofuel generasi kedua di masa depan. Pembangkit HVO memiliki potensi untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable avturtion fuel/SAF) yang juga dikenal sebagai bahan bakar biojet. (T2)







