Berita Lintas
sawitbaik

Duh Pemerintah, Petani Sawit Tercekik Harga Pupuk yang Melangit



Foto: Aceng Sofian/SawitFest2021
Duh Pemerintah, Petani Sawit Tercekik Harga Pupuk yang Melangit

InfoSAWIT, JAKARTA - Petani sawit mengeluhkan tingginya harga pupuk non subsidi yang beredar di pasaran selama setahun terakhir. Tingginya harga pupuk ini telah membuat petani sawit kelimpungan untuk mengelola biaya input produksi di perkebunan kelapa sawit. Lantaran komponen pupuk mencapai 60% dari total biaya produksi.

Dikatakan Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat ME Manurung, petani di sentra sawit banyak yang bertanya-tanya terakit tingginya harga pupuk tersebut, terlebih sudah 12 bulan terakhir sepertinya kenaikan harga pupuk ini tanpa ada solusi, dari para pemangku kebijakan di kementerian terkait. “Kenaikan terjadi merata baik pupuk dari produksi BUMN dan swasta,” ujar Gulat Manurung kepada InfoSAWIT.

Di Sumatera Utara, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Riau harga pupuk NPK ditingkat pengecer telah mencapai Rp 12.500/kg atau sekitar Rp 625 ribu per sak, dimana sebelumnya hanya sekitar Rp. 280 ribu per sak (50kg). “Ketersediaan pupuk memang tidak masalah, tapi sama saja kami tidak sanggup beli, meskipun harga TBS naik, itu semua sia-sia,” ujar Gulat.

Lebih lanjut tutur Gulat, merujuk laporan dari petani sawit Apkasindo di 22 provinsi, kenaikan harga pupuk ini merata baik NPK dan pupuk tunggal demikian juga herbisida dan obat-obatan lainnya. Bila harga pupuk dan herbisida tidak terkendali, maka biaya produksi dipastikan semakin tak terkendali, kondisi ini bisa membawa petani sawit bangkrut.

Gulat memprediksi, kondisi ini akan semakin berat dihadapi petani di 2022 dan akan menjadi puncak kebangkrutan petani sawit. Lanara, sepanjang tahun 2021 petani sawit tidak memupuk dan dipastikan satu tahun kemudian produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani diperkirakan bakal anjlok. “Bahan bakarnya sawit itu ya pupuk, untuk herbisida masih bisalah kami atasi dengan cara membabat manual dengan tenaga kami, kalau pupuk mana bisa digantikan dengan yang lain,” tandas Gulat. (T2)