Berita Lintas
sawitbaik

TradeHub Bisa Jadi Solusi Minyak Sawit Berkelanjutan



Foto: Miftahurrohman/SawitFest 2021
TradeHub Bisa Jadi Solusi Minyak Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, GLASGLOW -  Peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Herry Purnomo, telah mengusulkan untuk mengoordinasikan TRADE Hub Indonesia, guna menyambut baik janji COP26 untuk mengakhiri deforestasi dan janji Indonesia agar hutan menjadi penyerap karbon bersih, keduanya pada tahun 2030.

Namun demikian kata Herry, tapi bagaimana cara supaya Indonesia bisa memenuhi keduanya secara sekaligus? Padahal itu adalah area sumber dan tujuan yang kompleks, menyangkut investasi, tingkat dan jenis pekerjaan serti emisi. “Sekitar 2 juta hektar perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan berada di lahan gambut. Bagaimana menghadapi ini?”kata Herry, seperti dilansir CIFOR Forest News.

Dalam Simulasi TRADE Hub Indonesia menemukan bahwa kegiatan business-as-usual akan mengarah pada peningkatan perkebunan kelapa sawit, volume ekspor, pendapatan dan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan emisi kecuali jika lahan gambut dilindungi.

“Komitmen dapat menurunkan deforestasi seperti yang telah kita lihat di Sumatera Selatan dan emisi dapat dikurangi secara lokal dengan melakukan budidaya tumpang sari dan sekat kanal,” katanya.

Namun, kata Herry, terkadang tidak ada pilihan selain mengalihkan areal perkebunan kelapa sawit di lahan gambut ke areal lahan lain.

 

Model IPOS

Sebelumnya Center for International Forestry Research (CIFOR) telah melakukan penelitian berupa simulasi dampak berbagai kebijakan nasional dan internasional terhadap sektor sawit di Indonesia. Simulasi dilakukan dengan metode model dinamika sistem (system dynamic modelling) dengan pendekatan analisis nilai rantai (value chain analysis).

Dinamika sistem adalah model perubahan keadaan dengan memahami perubahan sistem dari waktu ke waktu dengan mengamati umpan balik perubahan tersebut terhadap sistem (Forrester, 1976).

Diagram sebab-akibat yang membangun model IPOS ditunjukkan pada gambar diatas. Dalam diagram digambarkan bahwa minyak sawit yang diproduksi pabrik disalurkan ke penyulingan domestik atau diekspor ke pasar global.

Diagram sebab-akibat juga mempertimbangkan bahwa pasar minyak sawit global ditentukan oleh persaingan dengan produsen dan tarif impor negara lain, selain itu juga dipengaruhi oleh persaingan dengan minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari, rapa, dan lain-lain. Diagram juga menggambarkan aliran material berupa: a) luasan perkebunan, produksi tandan buah segar dan minyak sawit serta turunannya; b) uang dari pasar ke penyulingan dan pabrik serta dari pabrik ke petani atau pengelola kebun; dan c) aliran karbon tiap aktivitas.

Data dalam model ini didasarkan pada hasil survei, sumber resmi seperti kementerian dan instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah dan stafnya, dan sumber tepercaya lainnya seperti lembaga penelitian, jurnal ilmiah dan organisasi kredibel.

Adapun komponen yang diamati timbal baliknya terhadap sistem yaitu: a) dinamika luasan perkebunan sawit, produksi tandan buah segar, dan deforestasi; b) dinamika pabrik, penyulingan, dan produksi minyak sawit; c) dinamika pasar minyak sawit; d) nilai ekspor, pendapatan pemerintah dan dana sawit; e) dinamika emisi gas rumah kaca sektor sawit; dan f) lapangan kerja di sektor sawit. Pemodelan dilakukan untuk jangka waktu 30 tahun. Setelah simulasi dengan data business as usual (BAU), dilakukan verifikasi model dengan mencocokan hasil simulasi dengan data dan perkiraan dari berbagai sumber diantaranya Kementerian Pertanian, GAPKI, dan Infosawit. (T2)