InfoSAWIT, BEIJING - Kontrak berjangka sektor pertanian dan energi di China menguat pada hari pertama perdagangan setelah liburan Tahun Baru Imlek, mencapai rekor dan tertinggi multi-tahun di awal sesi, didorong oleh kekhawatiran pasokan dan keuntungan pasar eksternal.
Dipasar Bursa Berjangka Komoditas Dalian, untuk kontrak rapeseed di Zhengzhou Commodity Exchange melonjak setidaknya 8%, dengan kontrak rapeseed di Zhengzhou mencapai rekor 3.445 yuan ($542,06) per ton pada hari Senin sebelum ditutup naik 8,4% pada 3.425 yuan.
Untuk minyak nabati, minyak kedelai dan minyak sawit berjangka di bursa Dalian naik sebanyak 5%-6%, dengan kontrak naik ke level tertinggi sejak September 2012 dan Juli 2008 masing-masing.
Sementara itu, minyak rapeseed di Bursa Berjangka Zhengzhou juga mencapai rekor 12.916 yuan per ton sebelum ditutup 1,3% lebih tinggi 12.720 yuan.
Dilansir Reuters, Keuntungan datang karena kedelai AS di Chicago Board of Trade mencapai puncak hampir delapan bulan di tengah kekhawatiran tentang hasil yang berkurang akibat cuaca di Amerika Selatan.
Sementara Kontrak minyak sawit di Bursa Berjagka Malaysia juga mencapai rekor tertinggi pemerintah Indonesia mewajibkan produsen minyak sawit nya untuk menjual 20% dari volume ekporken pasar dalam negeri, kondisi meningkatkan pasar minyak nabati secara global dan menopang keuntungan di pasar minyak nabati China, kata Analis Pertanian di Haitong Futures, Kong Lingqi.
Cina membeli sebagian besar kedelai yang dibutuhkannya dari pasar internasional, untuk diolah menjadi bungkil kedelai guna dijadikan pasokan ke sektor peternakannya yang besar, dan untuk bahan baku minyak goreng.
“Pasar eksternal naik banyak selama liburan Festival Musim Semi sementara pasar domestik ditutup. Sekarang kontrak berjangka domestik secara umum naik (mengikuti reli di pasar eksternal),” kata Zou Honglin, analis divisi pertanian di Mysteel, konsultan komoditas yang berbasis di China.
Lebih lanjut kata Zou Honglin, ada ekpektasi yang berlanjut menyusul ada nya perkiraan hasil panen kedelai yang menurun di Amerika Selatan, termasuk Brasil, Argentina, dan Paraguay. Kondisi ini juga bersamaan dengan harga minyak mentah yang juga meningkat, yang bisa mendorong harga minyak nabati, catat Zou Honglin. (T2)










