Berita Lintas
sawitbaik

Harga Minyak Sawit Sempat Melorot, Akibat Menurunnya Harga Minyak Nabati lain



Harga Minyak Sawit Sempat Melorot, Akibat Menurunnya Harga Minyak Nabati lain

InfoSAWIT, JAKARTA  - Minyak sawit di Bursa  Berjangka Malaysia tercatat menurun pada hari Selasa (8/2/2022) menjadi penurunan yang terburuk setelah delapan minggu, lantaran harga minyak nabati lainnya menurun akibat aksi ambil untung, disamping para pedagang sedang meperkirakan produksi dan ekspor kelapa sawit.

Kontrak patokan minyak sawit untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,87% menjadi 5.377 ringgit ($ 1.284,98) per ton pada istirahat tengah hari, menjadi sesi perdagangan terburuk sejak 15 Desember, ditutup 1,4% lebih rendah pada hari Senin (7/2/2022).

Dilansir Reuters, perdagangan sawit dipengaruhi "sepenuhnya oleh perilaku Dalian", kata seorang pedagang di Kuala Lumpur, menambahkan bahwa kontrak acuan Malaysia sudah matang untuk beberapa aksi ambil untung setelah mencapai rekor tertinggi 5.749 ringgit pada hari Senin.

Kontrak minyak kedelai teraktif Dalian turun 3,14%, sementara kontrak minyak sawitnya untuk pengiriman Mei turun 3,10%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade turun 1,19%.

Harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lain karena mereka bersaing untuk mendapatkan porsi di pangsa pasar minyak nabati global.

Sementara itu, pasar minyak sawit sedang mencoba untuk menentukan langkah selanjutnya karena produksi diperkirakan akan tetap rendah pada Februari tetapi mungkin akan meningkat pada Maret, kata pedagang tersebut.

Stok minyak sawit pada akhir Januari kemungkinan tetap datar di produsen terbesar kedua di dunia, karena produksi dan ekspor jatuh ke posisi terendah 11-bulan, survei Reuters menunjukkan.

Indonesia, produsen minyak sawit terbesar dunia, telah mengeluarkan izin ekspor sebanyak 310.000 ton minyak sawit mentah dan 18.178 ton olein dari enam perusahaan, kata seorang pejabat senior Kementerian Perdagangan dilansir Reuters.

Minyak sawit mungkin menguji kembali support di 5.484 ringgit per ton, penembusan di bawahnya yang dapat menyebabkan jatuh ke kisaran 5.366-5.425 ringgit, kata analis teknis Reuters Wang Tao. (T2)