InfoSAWIT, JAKARTA – Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) telah resmi meluncurkan Prinsip Kerangka Kerja Global Minyak Sawit Berkelanjutan atau Global Framework Principles of Sustainable Palm Oil (GFP-SPO) yang bertujuan menjadi panduan umum untuk berbagai skema sertifikasi yang diterapkan untuk produksi minyak sawit yang mengacu pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainabvle Development Goals (SDGs).
Kerangka kerja ini juga dapat digunakan untuk menilai kontribusi minyak sawit terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan di semua negara produsen dan meletakkan dasar keberlanjutan untuk minyak nabati.
Skim GFP-SPO resmi diluncurkan dalam webinar bertajuk “Global Framework for Sustainable Palm Oil” yang dihadiri oleh perwakilan negara-negara anggota dan pengamat CPOPC serta pemangku kepentingan lainnya yang berkaitan dengan skema keberlanjutan kelapa sawit. Sebelumnya dokumen penting tersebut telah diadopsi dan disetujui oleh kementerian negara anggota saat Pertemuan Tingkat Menteri ke-9 pada 4 Desember 2021 lalu.
Diungkapkan, Direktur Eksekutif CPOPC, Tan Sri Dr. Yusof Basiron, CPOPC percaya bahwa minyak sawit adalah alternatif berkelanjutan dari minyak nabati lainnya seperti kedelai, rapa dan bunga matahari, dengan kontribusi di semua dari tiga area fokus SDGs yaitu; sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Maka, GFP akan digunakan sebagai acuan karena prinsip-prinsipnya akan memperluas skema sertifikasi minyak sawit berkelanjutan saat ini seperti Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesia Sustainable Palm Oil) atau ISPO, dan Minyak Sawit Berkelanjutan Malaysia (Malaysia Sustainable Palm Oil) atau MSPO, dan memberikan panduan di masa mendatang,” tuturnya dalam keterangan resmi kepada InfoSAWIT, Selasa (15/2/2022).
Sementara, Deputi Menko Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Musdhalifah Machmud mengungkapkan, dalam kolaborasi dan dukungan skema sertifikasi saat ini, GFP-SPO dapat menyediakan panduan pada seluruh sistem dan tolak ukur.
“Perlu dicatat bahwa kerangka kerja ini bersifat sukarela dan bukanlah bertujuan sebagai skema sertifikasi minyak sawit baru, melainkan referensi penting yang berlaku untuk skema yang sudah ada dan yang akan datang,” katanya.
Senada, Sekretaris Jenderal, Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, YBhg. Datuk Ravi Muthayah menyatakan, GFP-SPO penting dalam memastikan bahwa minyak sawit mampu memenuhi permintaan dunia secara berkelanjutan dan produktif dengan mengikuti prinsip-prinsip SDGs. “Prinsip-prinsip GFP-SPO ini bersifat global dan dapat diterapkan secara universal, dengan mempertimbangkan perbedaan kenyataan setiap negara dan tingkat pembangunan,” tandas dia. (T2)







