InfoSAWIT, MUMBAI - Pengurangan pajak CPO menjadi 5% di India dikenal dalam skim Agriculture Infrastructure and Development Cess (AIDC), cara demikian bakal memperlebar perbedaan harga CPO dan minyak sawit olahan, hasilnya bakal efektif membuat lebih murah bagi penyuling India untuk mengimpor CPO, seperti dilansir Reuters. Kebijakan pemotongan pajak mulai berlaku pada Minggu (13 Februari).
Sementara dikatakan Direktur Eksekutif Solvent Extractors’ Association yang berbasis di Mumbai, BV Mehta, setelah pengurangan skim AIDC, perbedaan pajak impor antara CPO dan minyak sawit olahan akan melebar menjadi 8,25%.
“Ini akan membantu industri pengolahan di India, tetapi pemerintah perlu meningkatkan selisihnya lebih jauh menjadi 11% untuk mendorong industri pengolahan domestik,” katanya seperti dilansir The Edge Markets.
Sebelumnya, pemerintah India juga akan memperpanjang pemangkasan bea impor untuk minyak nabati hingga 30 September, kebijakan tersebut akan berakhir pada 31 Maret.
India mengimpor lebih dari dua pertiga kebutuhan minyak nabatinya dan telah berjuang untuk menahan kenaikan harga minyak nabati domestik selama beberapa bulan terakhir.
Negara ini mengimpor minyak sawit terutama dari produsen utama Indonesia dan Malaysia, sementara minyak lainnya, seperti kedelai dan bunga matahari, berasal dari Argentina, Brasil, Ukraina, dan Rusia.
Diungkapkan Kepala Eksekutif Sunvin Group, Sandeep Bajoria, impor minyak sawit olahan menyumbang hampir setengah dari total impor minyak sawit India dalam beberapa bulan terakhir. “Porsi minyak sawit olahan bisa turun hingga 20% dengan revisi struktur pajak tersebut,” tutur Bajoria.
Industri pengolahan India telah meminta pemerintah pusat India untuk mengubah struktur bea impor karena pembelian minyak sawit olahan di luar negeri lebih murah daripada CPO, akibat pajak yang lebih tinggi yang dikenakan oleh negara-negara produsen atas ekspor CPO. (T2)







