InfoSAWIT, PALEMBANG - Peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-99 (kalender Hijriah) untuk Wilayah Indonesia Barat bakal membahas sejumlah masalah semisal, Perubahan iklim, reforma agraria, hingga perhutanan sosial menjadi sorotan harlah NU yang digelar di Palembang.
Ketua PBNU Alissa Wahid mengatakan, halaqah perubahan ikilim akan menjadi forum kajian dalam upaya mitigasi untuk meminimalisasi dampak besar dari perubahan iklim. Jika tidak ada upaya mitigasi yang memadai, dampak perubahan iklim akan semakin parah dan sulit diatasi.
Maka, tutur Alissa Wahid, sangat penting bagi PBNU dalam harlah kali ini menggelar halaqah sebagai mini riset dalam menghadapi perubahan iklim. Sekaligus percontohan bagaimana optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dan perbaikan pengelolaan lahan sawit dalam rangka untuk pengendalian perubahan iklim,” kata Alissa Wahid, Selasa (1/3/2022), sperti dilansir Medcom.
Putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini memberikan contoh bagaimana Kota Pagar Alam di Sumatera Selatan sebagai pelopor pemanfaatan EBT dalam kehidupan masyarakat. Prinsip yang sama juga bisa diterapkan dalam hal perkebunan sawit.
Pada satu sisi perkebunan sawit memang mengalami dampak akibat perubahan iklim. Tetapi, di sisi lain perbaikan pengelolaan perkebunan sawit juga berperan positif dalam upaya penurunan emisi nasional.
“Maka dari itu, PBNU ingin melakukan langkah konkret dengan menjadikan momentum harlah sebagai pijakan awal untuk melakukan pendampingan-pendampingan dan edukasi kepada rakyat serta mendekatkan dari sisi akses kepada pengambil kebijakan,” ujarnya.
Selain halaqah tentang perubahan iklim, Harlah ke-99 NU juga menggelar halaqah tentang mekanisme pengusulan peremajaan kelapa sawit rakyat. Salain itu juga halaqah tentang reforma agrarian dan perhutanan sosial, serta halaqah tentang pengembangan ekosistem perkebunan sawit rakyat berkelanjutan. (T2)










