InfoSAWIT, MUMBAI – Diungkapkan seorang pedagang minyak nabati yang berbasis di Mumbai, industri pengolahan di Asia dan Eropa telah meningkatkan pembelian minyak sawit untuk pengiriman hampir sebulan guna menggantikan minyak matahari. “Pembelian ini telah mengangkat harga minyak sawit ke tingkat harga yang tidak rasional," katanya.
lebih lanjut kata dia, kendati mereka memiliki pilihan untuk membeli minyak kedelai juga. Tetapi pengiriman minyak kedelai terbatas dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mendarat di Asia dibandingkan dengan minyak sawit.
Dilansir Reuters, produksi kedelai di Argentina, Brazil dan Paraguay diperkirakan akan menurun kondisi ini diakibatkan karena cuaca kering.
Pembeli Asia yang sensitif terhadap harga biasanya mengandalkan minyak sawit karena biaya rendah dan waktu pengiriman yang lebih cepat, tetapi sekarang mereka membayar minyak sawit lebih tinggi US$ 50 per ton dibandingkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari, kata dealer minyak nabati yang berbasis di Kuala Lumpur.
Dimana minyak sawit mentah (CPO) ditawarkan dengan harga sekitar US$ 1.925 per ton, termasuk biaya, asuransi dan pengiriman (CIF), di India untuk kontrak pengiriman Maret, lebih tinggi dibandingkan dengan harga minyak kedelai mentah yang mencapai US$ 1.865 per ton.
Namun, harga premium minyak sawit tersebut bersifat sementara, dan bisa menurun dalam beberapa minggu ke depan karena pembeli beralih ke minyak kedelai untuk kontrak pengiriman April.
Sebagian besar permintaan tambahan untuk minyak sawit dipenuhi oleh Malaysia, karena Indonesia telah membatasi ekspor, kata seorang penyuling India.
"Stok minyak sawit Malaysia menipis dengan cepat karena lonjakan permintaan. Ini adalah penerima manfaat terbesar dari situasi geopolitik saat ini," katanya.
Minyak kelapa sawit melonjak ke harga premium yang bersejarah di atas harga minyak kedelai di India, kondisi ini memicu perubahan pola pembelian. (T2)










