InfoSAWIT, JAKARTA - Dikatakan Plt. Direktur Kemitraan BPDPKS, Edi Wibowo, saat ini fokus pemerintah dalam program pengembangan industri sawit dalam negeri meliputi dari sektor hulu, yakni Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), dukungan sara dan prasarana, serta program pengembangan SDM.
“Dampak untuk petani sawit swadaya berupa efisiensi biaya usaha berkebun sawit rakyat, serta harga jual TBS Sawit yang optimum, “ kata Edy dalam acara FGD SAWIT BERKELANJUTAN VOL 11, bertajuk “Minyak Sawit Sebagai Minyak Nabati Berkelanjutan Terbesar Dunia”, yang diadakan media InfoSAWIT, awal Desember 2021 lalu secara online.
Lebih lanjut kata dia, sampai Oktober 2021 jumlah pekebun sawit yang terlibat dalam PSR mencapai 102.209 petani, dengan luas lahan sekiar 234.392 ha, serta dana yang telah tersalurkan sejumlah Rp 6,34 triliun.
Tutur Edy, manfaat dari program ini meliputi tiga hal yakni, pertama meningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit rakyat, kedua, menerapkan praktik kebun terbaik (GAP), serta memperbaiki tata ruang perkebunan sawit rakyat.
Sementara untuk kinerja insentif biodiesel sawit, dari tahun 2015 sampai Oktober 2021, telah menyalurkan biodiesel sawit sebanyak 26,91 juta Kiloliter, dengan dana insentif yang tersalurkan sebanyak Rp 98,382 triliun serta PPN yang dibayarkan sejumlah Rp 89,5 triliun.
Penerapan kebijakan mandatori biodiesel ini, tutur Edy, diyakini mampu mengurangi Greenhouse Gas Emissions sebanyak 80,47 Juta Ton CO2e, mampu meningkatkan nilai tambah industri hilir sawit Rp 40,31 Triliun, serta adanya penghematan devisa sebesar US$ 3,91 miliar.
Lantas, unutk kinerja program Sarana dan Prasarana (Sapras), telah dilakukan. Kata Edy, program ini meliputi bantuan benih, pupuk dan pestisida (untuk ekstensifikasi), bantuan pupuk dan Pestisida (untuk intensifikasi). (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Januari 2022










